Flag Counter
5 February 2023

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Keterangan foto: Tampilan Mahad Al Jamiah dari depan (Kitorangnews/RR)

Sorong.Kitorangnews.com – Mendidik generasi muda menjadi pribadi yang cerdas dan alim (berilmu) adalah satu hal, sedangkan mempersiapkan mereka untuk dapat berkontribusi nyata di tengah masyarakat adalah hal yang lain.

Tingkat keilmuan tidak menjamin seseorang secara otomatis bisa memberikan dampak pada lingkungan sosialnya.

Hal inilah yang sangat disadari oleh Rektor IAIN Sorong, Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag, sehingga membuat terobosan brilian dengan membangun kolaborasi pendidikan tinggi formal (IAIN Sorong) dan pesantren (Ma’had Al Jamiah) dalam proses pengajaran anak-anak didik mereka.

Kolaborasi ini bukan saja melahirkan mahasiswa yang berwawasan luas, tapi juga siap terjun di tengah masyarakat luas sebagai seorang mahasantri, entah sebagai tokoh agama, maupun informal dan formal leader.

Setiap mahasiswa IAIN Sorong semester I wajib mengikuti pendidikan selama satu tahun di Ma’had Al Jamiah. Mereka akan mendapatkan pembinaan bahasa, penguasaan kitab kuning, kepemimpinan (leadership), penguatan ilmu-ilmu ke-Islam-an, dzikir dan doa, serta Tadarrus Al-Qur’an.

Lebih lanjut, untuk mempertinggi adab dan akhlak, setiap malam Jumat dilakukan pembacaan Al-Qur’an secara bersama-sama, mendoakan para orang tua, para dosen dan keluarga besar IAIN, orang yang berjasa terhadap IAIN, dan keselamatan seluruh bangsa dan negara ini.

Oleh karenanya, untuk meningkatkan skalabilitas dampak positif institusi pendidikan pada masyarakat yang lebih luas, kegiatan ini untuk ke depan akan dibuka untuk umum, sehingga memberikan “ruang” pada mahasantri untuk dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Mahasantri tidak hanya hebat dalam teori saja, tapi teruji dalam pengabdian nyata. Mahasantri secara simultan akan mendapat pembinaan karakter sehingga menjadi pribadi yang tangguh dan baik, sehingga di masa depan dapat tampil menjadi pemimpin yang bukan saja memiliki intelektualitas, namun juga mempunyai spiritualitas yang mendalam, serta mampu membangun networking (jaringan sosial) di berbagai kelas sosial di masyarakat.

Bahkan pendekatan pendidikan kolaboratif ini menjadi lebih “tajam”, karena melakukan pendekatan partisipasi aktif anak didik dengan mendorong mereka membuat berbagai simulasi berbagai tantangan masa depan.

Output dari pendekatan ini akan membuat mereka siap menjadi pemimpin di level formal maupun informal, menjadi pemimpin di keluarga, lingkungan sosial, hingga pemimpin organisasi kemasyarakatan.

Sejak awal mereka ditantang untuk menemukan berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan berbagai masalah kemasyarakatan, kemudian didorong untuk menemukan berbagai alternatif solusi yang dapat mengatasi persoalan-persoalan tersebut.

Pola pikir dan wawasan seperti ini bahkan akan berguna saat mereka di masa depan memutuskan menjadi pebisnis sekalipun. Bukankah esensi dari bisnis adalah memenuhi kebutuhan market dan memberi solusi untuk berbagai persoalan di masyarakat.

Kerjasama IAIN Sorong dan Ma’had Al Jamiah dapat dianalogikan mempersiapkan mahasantri seperti tentara, sebelum mereka terjun “bertempur”, sangat urgen untuk memahami seluk beluk “medan tempur”, sehingga wawasan tersebut akan menjadi bekal mereka dalam membuat berbagai keputusan yang tepat, serta mengambil tindakan yang bijaksana dan memberi masalahat (manfaat) seluas-luasnya, bukan hanya soal salah dan benar.

Terkait rencana pembukaan untuk umum, akan mendorong masyarakat untuk menjadikan hal ini sebagai ajang wisata religi dan ruang diskusi.*

Artikel ini telah terbit sebelumnya di Monitor Keadilan dengan judul : Mahasantri Al Jamiah IAIN Sorong adalah Solusi Berbagai Persoalan Sosial di Masa Depan

Tentang Penulis