Flag Counter
15 June 2024

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Ramadan: Evaluasi, Tindaklanjut dan Istiqamah (6)

Gambar Ilustrasi (kitorangnews.com/RR)

Penulis: Hamzah Khaeriyah (Rektor IAIN Sorong / Ketua Umum Darud Da’wah wal Irsyad Papua Barat Daya)

Sorong.Kitorangnews.com – Perbedaan al Fi’l dan Al ‘Amal terletak pada dampak pekerjaan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ar Ragib al Ashfahany. Menurutnya yang pertama mengandung kerja tapi tidak memberikan dampak sedang yang kedua adalah memberi dampak.

Pandangan ini mengantarkan pada pemahaman pada aspek manajemen bahwa Al ‘Amal adalah kerja yang mempertimbangkan risiko. Dengan mempertimbangkan aspek resiko maka berpotensi menghasilkan dampak pada pekerjaan, demikian sebaliknya pada al F’i’lAlquran mempergunakan kosa kata al ‘Amal pada konsep tentang zakat yang dikenal dengan ‘Amil.

Pengelola zakat yang diterjemahkan dari ‘Amil mengandung arti bahwa secara profesional harus mempertimbangkan aspek risiko dalam mencapai tujuan pengelolaan zakat.

Contoh lain adalah amal shaleh. Istilah ini sangat populer, namun salah satu risiko perbuatan ini adalah riya, sebagai lawan dari ikhlash.

Selain risiko juga mempertimbangkan tertib tahapan. Terdapat Amal shaleh yang hanya tepat dilaksanakan pada tahapan pekerjaan secara tertib. Contoh ibadah puasa dilaksanakan dengan tertib niat dan tertib imsak.

Pertukaran waktu kedua tahapan pekerjaan ini akan mempengaruhi kesahihan amal shaleh ibadah puasa. Ketiga, permohonan kebaikan di akhirat.

Pertanyaan kritis, apakah tidak cukup hanya memohon untuk kebaikan di dunia? Jawabnya secara teologis tidak cukup karena kehidupan dunia dan akhirat adakah satu paket kehidupan yang bersifat implikasi.

Artinya, kehidupan di dunia adalah betikhtiar. Hukum kehidupan di dunia adalah kerja atau ikhtiar baik secara rasional, maupun spritual. Di akhirat, menganut hukum pembalasan dari ikhtiar yang pernah dilakukan oleh manusia.

Lalu di mana letak ketidakcukupan manusia jika tidak berdoa untuk akhirat?. Sebagai dinyatakan bahwa hukum kehidupan adalah berakhir, karenanya berdoa adalah cerminan ikhtiar spritual. Berdoa kebaikan di akhirat adalah bagian dari ikhtiar spritual.

Argumen berikut adalah, karena informasi dalam arti apa kehidupan di sana seseorang sudah dapati selamat dalam arti berjaya di sana tidak ditemukan kepastian informasi yang sempurna.

Alquran memberi informasi bagi orang taat untuk selamat tapi pertanyaannya adalah person siapa atau apa saya ini selamat di akhirat. Karena informasi keselamatan diri dalam arti memperoleh kebaikan di sana berada pada informasi yang tidak sempurna sebab berada dalam dimensi waktu yang akan datang, maka pilihannya adalah berdoa.

Seseorang menyebut tempat untuk memperoleh kebaikan di akhirat dalam berdoa, maka secara tidak langsung mengakui ketidakmampuannya untuk memperoleh kebaikan di akhirat kecuali dengan pertolongan Allah.

Wallahu A’lam

==BERSAMBUNG…===

Loading

Tentang Penulis