Flag Counter
21 July 2024

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Ramadan: Evaluasi, Tindaklanjut dan Istiqamah (15)

Gambar Ilustrasi (kitorangnews.com/RR)

Penulis: Hamzah Khaeriyah (Rektor IAIN Sorong / Ketua Umum Darud Da’wah wal Irsyad Papua Barat Daya)

Sorong.Kitorangnews.com – Sekiranya ada perbandingan antara mengingat kebaikan yang pernah dilakukan dan melupakan kesalahan orang lain kepada diri sendiri maka boleh jadi ditemukan perbedaan jawaban.

Pertama, berat melupakan kesalahan orang lain. Mengapa karena begitu membekas dalam ingatan. Pandangan ini bisa dipertanyakan mengapa sangat dalam bekas-bekas puing kesedihan yang ditinggalkan.

Tentu saja memiliki argumen. Tetapi melihat besarnya kesalahan orang lain pada dirinya, sebenarnya belum tentu sebesar yang diduga, bahkan boleh jadi kesalahan kecil tapi dugaan yang membuat besar.

Karenanya peran perasaan sangat besar. Mungkin perasaan perlu pengendalian
Nah, orang yang selalu mengingat kesalahan orang lain pada dirinya, maka cenderung lahir sebagai pendendam.

Kedua, bisa melupakan namun butuh waktu. Pandangan ini akan berkata ya… sudahlah….kesalahan itu telah berlalu.

Tentang waktu yang dibutuhkan, sangat ditentukan oleh tingkat kepedulian yang bersangkutan pada dirinya. Karena memulihkan rasa kecewa, sakit, pada dasarnya adalah kepedulian terhadap diri sendiri.

Kepedulian untuk bangkit dan bergerak… tentu hal ini dipengaruhi banyak hal. Biasanya, jika lingkungan sosial mendukung ke arah melupakan, maka waktu yang dibutuhkan bisa singkat.

Ketiga. Mengingat kesalahan dan pada waktu yang bersamaan mengingat juga kebaikan yang pernah diberikan pada person yang sama. Kedua perbuatan yang pernah dialami oleh yang bersangkutan memiliki satu titik duka cita yaitu rasa benci jengkel dan dendam yang bergolak pada hati yang bersangkutan Pernyataan,…terlalu…. dan ungkapan tidak manusiawi mungkin terlontar dari mulut yang bersangkutan. Bagaimana mungkin kata yang bersangkutan, bagaimana saya tidak jengkel sudah dibantu tapi tidak tau diri….

Selanjutnya, Kapan duka itu terlupakan oleh yang bersangkutan? agak susah diprediksi. Tapi mungkin jika berdiskusi dengan seorang ulama, mungkin bisa dilupakan.

Wallahu A’lam

==BERSAMBUNG…===

Loading

Tentang Penulis