Flag Counter
21 July 2024

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Ramadan: Evaluasi, Tindaklanjut dan Istiqamah (13)

Gambar Ilustrasi (kitorangnews.com/RR)

Penulis: Hamzah Khaeriyah (Rektor IAIN Sorong / Ketua Umum Darud Da’wah wal Irsyad Papua Barat Daya)

Sorong.Kitorangnews.com – Karena komunitas berimplikasi membangun kemunitas yang terdiri dari anggota yang ingin berbuat baik, menghormati kebaikan, mengevaluasi kebaikan, menindaklanjuti kebaikan dan meneruskan kebaikan.

Sedangkan kemandirian membuat manusia matang dalam mengelola diri dan lingkungannya karena dalam bertindak menjadikan produksi kebaikan dan pendistribusian menjadi fokus perhatian karena di dalam dirinya sumber kebaikan yakni iman berada dalam posisi optimum.

Mengapa iman mereka optimum. Sebagai diketahui bahwa iman sangat dinamis karena bisa berkurang dan bertambah demikian pesan Nabi. Tapi untuk iman yang optimum, karena inilah yang terus menerus memproduksi kebaikan, mendistribusikan serta memberi ruang kepada lingkungan untuk dikonsumsi.

Nah kembali pada iman optimum, imam Al Gazali sebagaimana yang biasa dinyatakan oleh Al Gazali bahwa lupakan kebaikan yang pernah engkau berikan kepada orang lain. Mengapa, karena dikhawatirkan (hemat penulis) dapat membuat memori lambat loading. Sebab memori penuh. Karena ia penuh. Nah, yang perlu diingat, agar memori bekerja optimum adalah mengingat kejahatan atau keburukan yang pernah dilakukan.

Mengingat terus kebaikan yang telah diinvestasikan sebelumnya, berpeluang untuk diingat dan dibanggakan dalam.hati yang demikian dipandang tidak beretis.

Sementara mengingat kesalahan, akan mendorong perilaku untuk berbuat baik, karena menyesali kesalahan dan khilaf masa lalu. Perbuatan terakhir ini sesuai pesan nabi yang sering disampaikan oleh penceramah Islam bahwa ikutilah perbuatan kesalahan dengan perbuatan kebaikan. Atau dalam.bahasa lain bahwa gantilah dunia hitam dengan dunia putih:

Cara pandang yang dikemukakan oleh Al Gazali akan membuat permohonan maaf dan ampun kepada Allah menjadi sikap bergairah dan dipanjatkan terus menerus sementara perlindungan untuk tidak mengingat kebaikan juga saling bersahutan dalam diri.

Suasana hati yang digambarkan ini oleh sementara penceranah Islam.menyebutnya dengan keseimbangan.Karena cara pandang ke depan ibarat dipenuhi duri dan kerikil yang harus ditata dan dirapikan dan hal ini merupakan tantangan yang harus terkendali.

Sementara kebaikan, ditempatkan pada arah belakang yang kadang-kadang muncul dalam memori yang dipandang sebagai gangguan. Sehingga cenderung yang bersangkutan akan memohon perlindungan kepada Allah atas munculnya memori kebaikan masa lalu.

Perpindahan dari perilaku salah menjadi benar yang oleh penceranah Islam menyebutnya bagian bertaubat, dan perpindahan dari perilaku baik.untuk dilupakan yang oleh penceranah Islam menyebutnya dengan sadduzzarai, atau tindakan preventif atau menutup lubang yakni lubang riya, dapat dipandang sebagai model alternatif untuk mengoptimalkan iman.
Wallahu A’lam.

==BERSAMBUNG…===

Loading

Tentang Penulis