Flag Counter
15 April 2024

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Ramadan: Evaluasi, Tindaklanjut dan Istiqamah (19)

Gambar Ilustrasi (kitorangnews.com/RR)

Penulis: Hamzah Khaeriyah (Rektor IAIN Sorong / Ketua Umum Darud Da’wah wal Irsyad Papua Barat Daya)

Sorong.Kitorangnews.com – Konsep shirathal mustaqim yang dipanjatkan sebagai doa dalam shalat dan doa yang selalu dibaca pada surah al Fatihah oleh seorang muslim oleh Ibu Abbas menyebut sebagai Islam.

Selain itu dengan menggunakan teori ayat menjelaskan dengan ayat Alquran sehingga sangat jelas pada ayat berikutnya, bukan jalan sesat dan bukan pula jalan orang yang dibenci. Tapi jalan yang dilalui oleh orang yang pernah Engkau berikan nikmat.

Memang memperoleh jalan itu dan ikut menempuh jalan, merupakan inayah atau pertolongan Allah. Meyakini dan mengharapkan pertolongan adalah bagian dari iman fungsional. Karena, bukankah iman mendorong penganutnya menjadi aman?; mendorong penganutnya berenergi karena memiliki kekuatan eksternal dan itu adalah pemilik alam semesta. Sangat relevan dengan makna takbiran.ihram dalam shalat.

Pengucapan salam yang dilakukan oleh orang yang shalat sebagai bagian untuk mengakhiri shalat merupakan komitmen pada lingkungan sekitar untuk menyebarkan keselamatan dan kedamaian, dan hal ini akan terwujud jika memperoleh inayah dari sang pemilik alam.

Ada penceramah Islam pernah menyatakan bahwa bermohonlah kepada Allah agar antara waktu shalat ke waktu shalat, anda bisa menjadi penebar kedamaian dan merasakan kedamaian. Menurutnya jadikan setiap waktu shalat sebagai tonggak memperbaharui komitmen perdamaian itupun jika Allah mengizinkan.

Masih dalam pembahasan hubungan iman dan shalat, terdapat ayat Alquran pada surat attaubah yang mengelompokkan bahwa orang yang bisa memakmurksn masjid adalah orang yang beriman, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat dan tidak takut kecuali pada Allah.

Mereka ini adalah orang memperoleh petunjuk. Orang beriman dan mengerjakan shalat – sebagai pembahasan- menjadi penting karena dikaitkan aktifitas memakmurkan masjid.

Apa itu masjid. Telah menjadi pengetahuan umum.bahwa masjid adalah tempat ibadah dan pembinaan umat Islam.

Masjid dalam Alquran ditemukan dua kali, sekali masjid yang dibangun dengan dasar taqwa dan sekali yang masjid dhirar masjid yang memiliki motivasi utama tidak karena Allah.

Menarik bahwa motivasi ibadah yang selain Allah dikatagorikan dhirar (sesuatu yang mengandung bahaya).

Jadi fungsi iman dan shalat adalah menakmurkan masjid agar mencapai optimum layanan kepada umat karena Allah dan tidak motivasi lainnya.

Nah, siapakah mereka ini. Kata pence ramah Islam yang saya pernah dengar adalah para pengurus masjid, jamaah masjid, kontributor dana secara permanen atau temporal, muadzin, khatib dan penceramah Islam, para pengelola media dakwah masjid dan satpam masjid.

Ada satu pertanyaan, bagaimana jika terdapat masjid yang sepi baik dari jamaah maupun program pembinaan umat, maka siapa yang menjadi faktor?.

Tentu saja jawaban ini membutuhkan penelitian khusus, tetapi secara umum.bisa dinyatakan sebagaimana kata penceramah Islam, bahwa tingkat keramaian masjid sangat ditentukan oleh kinerja pengelola masjid.

Kinerja pengurus masjid ditentukan oleh kepemimpinan pengurus masjid. Kenapa bukan jamaah, mengapa pengurus masjid?. Karena pengurus masjid itu adalah khadim atau pelayan.

Mereka memiliki otoriras dalam mengemban tugas pelayanan. Jika demikian, apa kewajiban jamaah?. Mereka berkewajiban untuk mendukung kepemimpinan pengurus masjid. Mungkin proses ini akan mengantar pada optimalisasi memakmurkan masjid.

Bagaimana hubungan antara partisipasi masyarakat atau jamaah dengan konsep memakmurkan masjid. Penceramah Islam pernah mengatakan bahwa, jika anda ingin melihat keadaan masyarakat Islam maka perhatikan masjid sekitar.

Menurutnya temuan anda dari masjid sekitar akan menggambarkan masyarakat dari berbagai aspeknya. Apabila pendapat penceramah Islam ini diterima maka masjid merupakan gambaran mini kondisi objektif masyarakat Islam.

Wallahu A’lam

==BERSAMBUNG…===

Loading

Tentang Penulis