Flag Counter
15 April 2024

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Ikut PKN II, Karo AUAK IAIN Sorong Angkat Proper “Revitalisasi Ma’had Al Jamiah IAIN Sorong jadi Kampus Peradaban yang Moderat”

Kepala Biro AUAK IAIN Sorong

SORONG, kitorangnews.com – Sebagai peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) II atau dulunya disebut Diklat PIM II, Kepala Biro (Karo) Administrasi Umum, Akademik dan Kemahasiswaan (AUAK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Dr H.M Arsyad Ambo Tuo, M.Ag mengajukan laporan proyek perubahan (Proper) bertajuk “Revitalisasi Ma’had Al Jamiah IAIN Sorong jadi Kampus Peradaban yang Moderat”.

Pelatihan Kepemimpinan Nasional II yang dikuti Karo AUAK sejak 11 Juni 2023 lalu dijadwalkan selesai pada Oktober 2023. Sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan PKN II yang digelar oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) Jakarta, para peserta termasuk Karo AUAK IAIN Sorong Dr Arsyad Ambo Tuo wajib mengajukan rancangan Proper di lingkungan kerjanya masing-masing.

Terkait dengan kewajiban menyelesaikan tugasnya di PKN II, sebagai leader Proper, Dr Arsyad membidik Ma’had Al Jamiah di Kampus IAIN Sorong.

Dijelaskan oleh Dr Arsyad, Mahad Al- Jamiah adalah salah satu unit yang ada di IAIN Sorong, setara dengan unit yang lain, seperti LPM, LP2M, TIPD dan Perpustakaan.

Mulai dari mengajukan judul hingga apa ending dari proyek perubahan yang diajukan, semuanya melalui tahapan.

Sebelumnya dijelaskan oleh Dr Arsyad, ma’had (pesantren) adalah salah satu program yang dicanangkan oleh Kementerian Agama RI pada tiap Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN), karena itu lahirlah peraturan Pendis Nomor 1595 tahun 2021 tentang pedoman penyelanggaran Ma’had Al- Jamiah pada PTKN.

“Nah saya mengangkat ma’had ini dengan judul “ Revitalisasi” , karena memang perlu kita benahi secara bersama-sama, sehingga keberadaannya itu betul-betul bisa maksimal,”ujar Dr Arsyad Ambo Tuo.

Dampak Covid-19 lalu diakuinya membuat Ma’had Al-Jamiah IAIN Sorong yang didirikan sejak 3 tahun lalu belum maksimal sesuai yang diharapkan.

Merasa perlu dimanage dengan baik, oleh Rektor IAIN Sorong Prof Dr Hamzah, M.Ag diangkatlah pimpinan Ma’had (mudir) UPT Ma’had Al Jamiah.

Menjelaskan tentang proper yang diajukan, Dr Arsyad mengatakan, ada 3 tahapan program yang telah dan akan dilaksanakan yakni program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

“Dari hasil konsultasi dengan pak Rektor sekaligus sebagai mentor saya, ada 3 point yang kita jadikan sebagai program jangka pendek, yang rentang waktunya dari Agustus sampai Oktober,”jelasnya.

Sebelumnya dijelaskan bahwa revitalisasi adalah penguatan dari program yang sudah ada.

Meski inovasinya tidak memulai dari nol, tapi menyesuaikan dari program-program yang sudah ada ,sehingga dengan adanya revitalisasi nanti betul-betl bisa berjalan sesuai ketentuan yang ada.

“Alhamdulillah Pak Rektor (Prof Hamzah) sangat respon dengan judul itu, oleh beliau menyampaikan kepada kami untuk menyampaikan dihadapan para pimpinan IAIN Sorong dalam rangka penguatan dari proper itu,”tutur Dr Arsyad.

“Karena proper yang diajukan merupakan bagian dari program institusi yang secara kebetulan saya sebagai peserta, project leader mengangkat tema “Revitalisasi Ma’had Al Jamiah IAIN Sorong menjadi kampus peradaban yang moderat,”ungkap Dr Arsyad.

Dalam propernya ini, mendapat dukungan sepenuhnya mulai unsur pimpinan di IAIN Sorong, orang tua mahasantri hingga pemerintah provinsi, kota dan kabupaten di wilayah Provinsi Papua Barat Daya.

Mengenalkan lebih jauh tentang Ma’had Al Jamiah, dikatakan Dr Arsyad, sebagai pasentren kampus, Ma’had Al Jamiah punya tata cara tersendiri dalam rangka transformasi pengetahuan dari satu narasumber ke mahasantri.

Cirinya ada kegiatan pengajian di masjid kampus IAIN Sorong yang dilaksanakan antara waktu magrib dan isya ataupun setelah waktu sholat subuh.

Materi dalam kajian adalah tentang keislaman yang menjadikan kitab-kitab klasic sebagai referensi yang didalamnya memuat 3 hal yakni taaruf fiddin, pengetahuan tentang dasar-dasar agama, taalum fiddin, pengembangan dari pengetahuan tentang keagamaan itu sendiri dan tafakum fiddin, pengamalan.

Selain kegiatan-kegiatan yang sifatnya sebagai ciri ma’had, melalui kajian-kajian Islam, juga ada penguatan bagi ketrampilan mahasantri.

“Karena mahasantri kita adalah mahasiswa yang proses perkuliahannya dari pagi sampai siang, sehingga waktu kita sesuaikan, biasanya ibu mudir ma’had menggunakan waktu sore. Selain kegiatan-kegiatan olahraga juga ada kegiatan yang dilaksanakan pada malam hari ba’da isya sebelum waktu tidur,”tutur Dr Arsyad .

“Jadi kita bisa melihat, antara magrib dan isya, seperti tadi malam ada kegiatan kajian yang biasa disebut Khalaqah di pesantren itu antara magrib dan isya, dan dilanjutkan setelah sholat subuh,”imbuhnya.

Untuk kajian disampaikan oleh para narasumber mulai dari Rektor IAIN Sorong Prof Dr Hamzah, M.Ag dan para dosen yang telah dijadwalkan sebagai tenaga pendidik pada kajian di Ma’had Al Jamiah.

Yang pasti bahwa semua kegiatan mahasantri di Ma’had Al- Jamiah sudah terprogram bentuk jadwal kegiatan.

Untuk menghidupkan Ma’had Al-Jamiah, hampir semua mahasiswa baru IAIN Sorong yang masuk pada tahun ini diarahkan jadi mahasantri di Ma’had Al-Jamiah.

“Itu yang menjadi ending dari judul proper Revitalisasi Ma’had Al Jamiah IAIN Sorong menjadi kampus peradaban yang moderat,”ucap Dr Arsyad lagi.

Terkait dengan upaya mewujudkan IAIN Sorong sebagai kampus peradaban yang moderat, dijelaskan oleh Dr Arsyad bahwa kampus adalah dunia akademika yang didalamnya ada proses transformasi ilmu pengetahuan.

“Kita inginkan agar para mahasiswa kita khususnya yang ikut pada program Ma’had Al- Jamiah itu punya pengetahuan dan wawasan yang memadai. Jadi selain wawasan keagamaan juga dibutuhkan wawasan kebangsaan,”tandasnya.

Dengan demikian, kampus yang moderat adalah bagaimana para mahasiswa betul-betul mampu memahami nilai-nilai ajaran agama dari berbagai perspektif. Sehingga ketika terjadi perbedaan satu paham dengan paham lain itu tidak dijadikan sebagai argumen untuk menjadi perdebatan seingga ada kecenderungan untuk berada pada satu perbedaan.

“Kita mau kalau itu memang terjadi perbedaan maka itu hanya dalam konteks perbedaan pandangan. Hanya dalam konteks perbedaan pilihan, dalam artian kecenderungan memahami paham seperti ini. Tetapi moderat yang kita maksud adalah tetap memposisikan dirinya pada posisi yang ideal, tidak terlalu cenderung ke kiri dan juga tidak terlalu cenderung ke kanan.

Meskipun secara pribadi juga tentu punya prinsip bahwa ada kecenderungan untuk mengamalkan salah satunya,”terangnya.

Lanjut diuraikan, seperti dalam persoalan muamalah. Kalau dalam konteks dengan muamalah bagaimana kita bisa membangun ,komunikasi dengan yang lain baik itu inter agama dalam artian sesama pemeluk agama maupu antar satu pemeluk agama dengan pemeluk agama yang lain.

“Jadi selain dalam tatanan akademik secara internal sesama agama juga diharapkan punya rasa toleran dengan saudara-saudara kita yang lain, meskipun itu kita berbeda agama. Tentu hal ini tidak serta merta dapat dipahami tanpa melalui proses pengetahuan yang bisa meyakinkan mereka untuk memberikan semacam penguatan. nah itu yang kita inginkan,”jelasnya.

Karenanya lanjut Dr Arsyad, salah satu program prioritas adalah moderasi beragama. “Itu salah satu alasan mengapa kita mengangkat moderasi itu dalam konteks karena kita inginkan agar mahasiswa kita punya pengetahuan yang memadai, baik yang berkaitan dengan pengetahuan ataupun wawasan keagamaan maupun yang berkaitan dengan pengetahuan dan wawasan kebangsaan.

Jadi antara wawasan keagamaan dan wawasan kebangsaan, apabila hal ini dimiliki oleh mahasiswa kita saya kira nanti output ataupun ending dari moderasi itu menjadi bekal baginya,”tandas Dr Arsyad penuh semangat.

Untuk wawasan kebangsaan, akan ada kegiatan-kegiatan kelompok , semacam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh ma’had dengan melibatkan narasumber dari eksternal yang terkait.

Selain kegiatan-kegiatan yang bersifat rutin, juga ada kegiatan-kegiatan yang sifatnya tentatif.

“Katakanlah seperti latihan dasar kepemimpinan, materinya itu adalah wawasan kebangsaan. Seperti yang kemarin kita lakukan pada saat PPAK,”ungkapnya.

“Dan kami pun juga ketika itu ditunjuk sebagai narasumber tentu kita akan mengangkat tentang apa itu toleransi. Nah seperti yang ingin kita jabarkan di kampus kita khususnya melalui program Ma’had Al Jamiah,”imbuh Dr Arsyad.

Dari penjelasan tentang Ma’had Al-Jamiah, Dr Arsyad bersyukur karena sebagai leader proper, tahapan jangka pendek yang harus selesai di bulan Oktober ini telah dilaksanakan. Mulai dari konsultasi dengan Rektor IAIN Sorong sebagai mentor, pembentukan tim kerja untuk menyertai project leader serta sosialiasi proper.

Sosialisasi proper “Revitalisasi Ma’had Al-Jamiah IAIN Sorong jadi Kampus Peradaban yang Moderat” dilaksanakan mulai di kalangan mahasiswa hingga di kalangan pemerintah.

“Alhamadulillah setelah kita lakukan sosialiasi, membangun koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah, baik itu pemerintah provinsi, kota dan kabupaten itu semuanya memberikan respon dan dukungan kepada kita. Baik dalam bentuk tertulis seperti dukungan maupun dalam bentuk penyampaian,”tandas Dr Arsyad.

Selain itu sosialisasi juga dilaksanakan kepada orang tua mahasiswa pada momen peringatan Maualid Nabi Muhammad SAW 1445 H yang dilaksanakan di Kampus IAIN Sorong belum lama ini.

Dari sosialisasi itu tercetus untuk membentuk Forum Silaturahmi Orang Tua Mahasanstri.

Setelah 3 program jangka pendek dilaksanakan, untuk program jangka menengah yang rentang waktunya selama 6 bulan, menurut Dr Arsyad, ada 6 hal yang dijadikan program jangka menengah, yakni melakukan invenstarisasi sarana dan prasarana pendukung, penyusunan pedoman penyelenggaran revitalisasi Ma’had Al-Jamiah, penetapan mahasiswa sebagai mahasantri, workshop kurikulum dan launching program proyek perubahan.

Yang membuat wajah Dr Arsyad berbinar-binar bahwa ternyata ada program yang sebelumnya diplotkan masuk di jangka menengah, ternyata dapat dilaksanakan lebih cepat yakni dilaksanakan di jangka pendek yang waktunya antara Agustus-Oktober.

“Ada semacam progres kegiatan itu maju. Jadi tidak menunggu waktu sesuai dengan jadwal yang semestinya kita laksanakan di jangka menengah, karena begitu semangatnya dukungan dari semua pihak, termasuk dari pimpinan IAIN Sorong maupun dukungan dari orang tua mahasantri itu sendiri, yang kita plotkan di jangka menengah, justru kegiatannya dilaksanakan di jangka pendek,”ucap Dr Arsyad.

Adapun program jangka menengah yang dilaksanakan di jangka pendek yakni penyusunan pedoman penyelenggaraan sebagai SOP, inventarisasi terhadap kebutuhan mahasantri, dan penetapan mahasiswa jadi mahasantri , pembentukan forum silatirahmi bagi orang tua mahasantri.

“Tinggal 2 yang tersisa dari jangka menengah, Insya Allah pasca Oktober nanti Insya Allah segera kita tindaklanjuti yaitu secara formal kita launching yang sebenarnya program itu kan sudah jalan, tinggal mau diformalkan. Dan yang ke 2 tentang kurikulum.

Kita akan melakukan penguatan melalui kegiatan pelatihan dalam rangka persamaan persepsi dan pandangan tentang apa yang hednak dicapai dalam program ini melalui kurkurikulum,”jelasnya.

“Intinya, saya selaku peserta pada kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Nasional II tahun 2023 ini, mengangkat tema proper saya, “Revitalisasi Ma’had Al Jamiah IAIN Sorong Menjadi Kampus Peradaban yang Moderat,”pungkas Dr Arsyad Ambo Tuo, M.Ag. (ams/KitorangNews)

Tentang Penulis