Flag Counter
10 December 2022

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

IAIN Sorong Mengundang Berbagai Tokoh Membahas Moderasi Beragama

Foto: Koleksi kontributor kitorangnews.com

Sorong, kitorangnews.com – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong mengundang Wakil Gubernur Papua Barat, anggota DPR RI, anggota DPD RI Dapil Papua Barat, pendeta, kyai, pimpinan perguruan tinggi, dan tokoh pemuda, guna membahas tentang moderasi beragama untuk memperkokoh keutuhan NKRI, pada acara webinar Dialog Nasional dengan tema “Membangun Moderasi Beragama untuk Memperkokoh Keutuhan NKRI”, Kamis, 2/7/2020.


Kegiatan yang gelar di tengah pandemi covid-19 menjadi suguhan yang luar biasa. Di samping tema yang diangkat begitu menarik dan hangat, acara yang diprakarsai oleh IAIN Sorong ini juga mengundang banyak tokoh dari lintas agama dan pemerintah daerah dan pusat.


Seperti yang disampaikan oleh moderator pada acara tersebut, Drs. Hasbullah, Ph.D., bahwa acara dialog nasional tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan.


“acara ini sangat luar biasa, karena selain kita undang Wakil Gubernur Papua Barat dan anggota DPR RI komisi VIII sebagai narasumber, acara ini dihadiri juga oleh tokoh agama seperti, Pdt. Obet Nego Mauri, kemudian ada juga dari pimpinan perguruan tinggi, seperti UTM Malaysia, ada dari Politeknik Kupang, Unram, UIN Mataram, UIN Alauddin, PTN Kendari, Solo, dan juga turut hadir Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua Barat. Hal ini menjadi gambaran bahwa membahas moderasi beragama harus mengahdirkan narasumber dan peserta dari lintas agama, organisasi, dan daerah” terangnya.


Acara yang digelar pada siang hari menggunakan aplikasi zoom meeting tersebut, dibuka oleh Rektor IAIN Sorong, Dr. Hamzah, M.Ag., Ia menyampaikan keilmuan yang ada di perguruan tinggi (IAIN Sorong) harus dikolaborasikan dengan budaya lokal yang ada di daerah perguruan tinggi tersebut, sebagai upaya untuk membangun moderasi beragama di timur Indonesia.
“kami berupaya membangun moderasi beragama untuk memperkokoh NKRI dari Timur Indonesia. Tentu yang menjadi dasar, salah satunya adalah bagaimana mengkolaborasikan budaya dengan keilmuan di perguruan tinggi ini” ungkapnya.


Di sisi lain, anggota komisi VIII DPR RI, Dr. M. Ali Taher, S.H., M.Hum., memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang diadakan oleh IAIN Sorong itu. Ia juga menyinggung perihal pembahasan idiologi pancasila yang saat ini sedang hangat diperbincangkan.
“selamat kepada IAIN Sorong yang telah mampu menggelar acara yang luar biasa ini. Saya juga ingin mengatakan bahwa, moderasi beragama ini harus menjadi landasan utama kita dalam memperkuat NKRI, dan saya juga menyampaikan bahwa pembahasan tentang pancasila sudah final” tegasnya.


Senada dengan apa yang disampaikan oleh Ali Taher di atas, Wakil Gubernur Papua Barat, Muhammad Lakotani, S.H., M.Si., dan Pendeta Obet Nego Mauri, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada IAIN Sorong sebagai tuan rumah acara dialog nasional tersebut.
“Ini acara yang patut diberikan apresiasi, dan saya apresiasi kepada peneyelenggara, yakni IAIN Sorong” ungkapnya wagub.
Pdt. Obet juga menyampaikan terkait pembahasan tentang ideology pancasila. Ia menegaskan bahwa pembahasan tentang pancasila sudah final.
“bagi saya, pembahasan pancasila sudah selesai, sudah final” tegasnya.

Di akhir segmen, anggota DPD RI dapil Papua Barat, Sanusi, memberikan closing statement tentang bagaimana menjaga keutuhan NKRI dengan moderasi beragama. “kita harus saling menghargai satu sama lain, toleransi dengan simbol satu tungku tiga batu” tutupnya.


Dari berbagai pernyataan dan pendapat yang disampaikan oleh para tokoh di atas menunjukkan bahwa moderasi beragama menjadi langkah dasar dalam upaya mencegah faham-faham “ekstrimis” yang selalu bermunculan. Melihat belakangan ini, gerakan-gerakan dalam pemahaman beragama terkesan jauh dari prinsip dalam agama Islam, yakni rahmatal lil’alamin. Oleh karena itu, pemikiran-pemikiran yang dicetuskan oleh para tokoh dalam dialog tersebut cukup komprehensif dan kondisional. Moderasi beragama harus bisa menjadi penangkal gerakan-gerakan ekstrimis yang terkadang sewaktu-waktu bisa membahayakan keutuhan bernegara. (Lalu).

Tentang Penulis