Flag Counter
3 December 2022

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Trik Rektor IAIN Sorong Untuk Merespons “Kampus Merdeka” Ala Nadiem

Foto: Koleksi Kontributor KitorangNews

Sorong, KitorangNews.com – Sejak awal tahun 2020 peluncuran program “kampus merdeka” disampaikan Mendikbud Nadiem Makarim. Nadiem menegaskan bahwa kebijakan “kampus merdeka” ini merupakan kelanjutan dari konsep “merdeka belajar” yang sebelumnya telah ia ciptakan. Pelaksanaannya paling memungkinkan untuk segera dilangsungkan, hanya mengubah peraturan menteri, tidak sampai mengubah Peraturan Pemerintah ataupun Undang-Undang (dikutip dari kompas.com).


Penegasan pidato menteri pendidikan tersebut menjadi bahan diskusi pimpinan perguruan tinggi dalam menghadapi perubahan iklim belajar. Termasuk salah satunya Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong yang merespons wacana menteri pendidikan tentang skema “merdeka belajar/belajar merdeka”. Hal ini disampaikan setelah webinar diskusi terarah bersama Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. M. Amin Abdullah, melalui voice note, 17/6/2020.


Pembahasan webinar mengenai integrasi-interkoneksi sejalan dengan kebijakan “kampus merdeka” pada poin dua, yaitu kampus merdeka memberikan hak kepada mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar program studi (prodi) dan melakukan perubahan definisi Satuan Kredit Semester (SKS). Kemudian Prof.Dr. Amin Abdullah menyatakan bahwa saat ini perguruan tinggi sudah berada pada generasi ke tiga dan bahkan trend keilmuan masa depan dengan terapan merdeka belajar.


Disampaikan secara terpisah oleh Rektor IAIN Sorong, Dr. Hamzah, M.Ag., mengenai poin yang merupakan langkah respons IAIN Sorong dalam mengaplikasi kebijakan pemerintah di antaranya sebagai berikut: “1. Langkah awal dosen diharapkan perspektif dalam melihat perubahan iklim pengajaran, 2. Sejak masih STAIN Sorong Ketua pernah memperkenalkan istilah Mustami’ sebagai jembatan bagi mahasiswa untuk kaya perspektif, 3. Dosen berperan sebagai pemimpin sebagaimana menjadi teladan bagi mahasiswa (calon pemimpin masa depan), 4. Dengan adanya transformasi institusi, stakholders mesti merubah cara pikir lebih maju dan bahkan saat ini bagaimana memikirkan IAIN menuju UIN, 5. Menjadikan ilmu sebagai mutidisiplin sebagaimana diterapkan oleh beberapa UIN di Indonesia, dan 6. Membangun diskusi di berbagai disiplin ilmu dan antar civitas academica baik itu dosen dengan dosen, dosen dengan mahasiswa begitu seterusnya” demikian keterangan rektor.


Dr. Hamzah, M.Ag., menambahkan bahwa “tahun ini gagasan seperti ini diharapkan berjalan dengan kerja keras semua lini baik itu pimpinan maupun civitas academica secara keseluruhan. Tentunya gagasan ini akan melahirkan konsep terlebih dahulu sebagai landasan sikap secara akademik, untuk memudahkan nantinya membangun kerjasama eksternal tentunya tujuannya adalah merespon apa yang menjadi kebijakan pemerintah” tutupnya.


Dengan beberapa poin di atas menunjukkan IAIN Sorong memiliki kesiapan untuk menuju era disrupsi 4.0, yang memiliki persaingan kerja yang sangat ketat, yakni era wirausaha dan era kampus merdeka.

Tentang Penulis