Flag Counter
10 December 2022

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Keterangan Foto: Gambar ilustrasi sedang tersenyum bahagia

Sorong. kitorangnews.com – Dalam kehidupan ini, hati kita itu sering gembira, sering juga bersedih. Di kala hati gembira, hati kita luar biasa enaknya. Namun jika tiba waktunya sedih maka pasti hati kita akan sakit.

Sakit hati itu kadang-kadang membawa kepada keadaan patah hati, kalau telah patah hati maka semuanya dalam keadaan loyo (baca:lemah). 

Jikalau kita telah patah hati maka tentu kita tidak dapat lagi berpikir positif, perasaan kita diselimuti oleh perasaan jengkel dan tidak dapat lagi berpikir hal-hal yang baru.

Manakala seseorang telah berada pada kondisi seperti di atas ini maka ia telah tenggelam dan susah untuk bangkit. Tidak ada lagi kebaikan yang diingat, yang diingat adalah kekecewaan karena hatinya telah hancur.

Inilah bahaya yang akan dihadapi oleh kita semua manakala hati kita dalam keadaan bersedih. Begitupula sama halnya jika hati kita terlalu gembira.

Oleh karenanya, terlalu gembira juga dapat berbahaya bagi kita karena mengantarkan kita kepada pribadi yang takabbur (baca: merasa tinggi/angkuh/sombong), terlalu sedih juga akan sangat berbahaya karena sebagaimana yang telah kita gambarkan di atas dan begitupula pada artikel sebelumnya. baca : https://kitorangnews.com/1643/kiat-kiat-obati-kesedihan-menurut-ulama-tafsir/

Dalam kehidupan ini, ada dua hal yang membuat orang bersedih. Ada karena dari luar dirinya seperti cemohan, ejekan maupun perkataan-perkataan yang terlontarkan dari lisan orang lain. Adapula yang membuat hati kita bersedih dikarenakan perbuatan diri kita sendiri.

Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam itu juga di masa hidupnya sering diejek, dicaci maki dan diolok-olok oleh orang yang tidak senang kepada beliau. Di dalam Al-Qur’an diberitakan bahwa beliau terkadang oleh orang-orang kafir Quraisy disebut sebagai orang gila.

Tidak hanya sebatas caki maki/ejekan/olokan/hinaan semata yang diterima oleh Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam semasa hidupnya  namun  kerap kali juga sering mendapatkan kekerasan fisik.

Pada fase sebelum hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam bersama sahabatnya Zaid bin Haritsah hendak berdakwah ke Thaif, namun bukan diterima dan disambut baik oleh penduduk Thaif malah Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam dilempari batu hingga berdarah tubuhnya, begitu pula dialami oleh Zaid bin Haritsah kepalanya berdarah karena hendak ingin melindungi Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam.

Inilah di antara fakta dan kenyataan yang tertulis di dalam sejarah maupun yang diabadikan di dalam Al-Qur’an.

Dengan adanya kejadian tersebut Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam hanya berkata “innahum qaumun laa ya’lamuun” (sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengetahui). 

Sikap sabar, optimis dan arif inilah kemudian mengantarkan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam kepada gelar sebagai ‘Ulul ‘Azmi atas kesabarannya yang sangat luar biasa.

Kita pun sebagai manusia biasa tidak diperkenankan untuk berlarut-larut di dalam kesedihan manakala kesedihan itu datang menghampiri kita.

Al-Qur’an pun mengingatkan kepada kita sebagaimana yang tercantum di dalam Surah Yaa Sin ayat 76 agar kita tidak larut dalam kesedihan atas seluruh ucapan-ucapan negatif orang yang tidak senang dengan kita.

Lebih lanjut, potongan akhir ayat tersebut pula menerangkan bahwa Allah ta’alaa Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati mereka maupun apa yang mereka nampakkan.

Maksudnya adalah jika ada orang yang tidak senang sama kita lalu kemudian mengganggu kita maka sikap dan perasaan kita hendaknya biasa-biasa saja bila perlu tidak usah terlalu dipikirkan sebab Allah lebih tahu apa yang ada di dalam hati mereka.

Biarkanlah orang yang tidak senang itu selalu mengganggu kita, kita fokus saja pada posisi yang selalu memperbaharui dan meningkatkan kualitas diri.

Inilah salah satu resep di dalam menjalani kehidupan ini yaitu seyogyanya harus bersikap tegar dalam menghadapi ujian dan cobaan.

Kita harus memiliki prinsip sebagai pejuang. Seorang pejuang tentu memiliki banyak tantangan dan rintangan yang harus dilalui. 

Kita harus harus mampu mengendalikan perasaan kita. kalau kita terlalu terbawa oleh perasaan maka kita akan mendapatkan dua hal yaitu terlalu gembira dan terlalu sedih.

Sebagai penutup, janganlah larut dalam kesedihan karena ketahuilah bahwa Allah akan senantiasa mendampingi kehidupan kita bersama dengan malaikat-malaikatNya, Orang Mukmin dan orang-orang yang ada di sekitar kita. Semoga bermanfaat.

(Artikel ini diintisarikan dari ceramah agama Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag. pada sesi Kajian Ba’da Sholat Dzhuhur di Masjid Quba Kota Sorong, pada Rabu 18/5/22)

Tentang Penulis