Flag Counter
3 December 2022

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Jatuh-Bangun? Itu Biasa

Gambar Ilustrasi: Usaha dan Cara

Semua pencapaian bukan hanya tentang hasil dari sebuah proses, tapi cerita dari proses itu. Hidup ini hanya tentang usaha, sebab semua harus bertumbuh, siapa pun itu perlu bertumbuh dan berkembang. Bukan hanya tentang urutan aliran alami pertumbuhan fisik yang habis muda kemudian tua, namun tentang makna perjalan kita bersama waktu yang mengikutinya dari lahir hingga akhir. Kita mungkin akan memiliki cara pandang yang berbeda tentang pola perubahan dalam tumbuh-kembang itu.

Ada yang ingin tumbuh dengan menambah wawasannya sehingga ia belajar rutin. Ada yang ingin tumbuh dengan menambah jumlah keuangannya, sehingga ia ulet dalam usaha. Ada yang ingin menanjak puncak karir tertinggi hingga ia bekerja tekun, dan ada banyak yang memandang tumbuh kembang itu adalah bertambahnya kualitas iman, maka ia semakin tekun dalam ibadah.

Tumbuh kembang tidak mengalir begitu saja. Banyak halang-rintang yang kadang membuat orang berkata “tak semuda membalikkan telapak tangan.” Selalu ada proses jatuh-bangun, sukses-gagal yang membersamainya. Hanya orang yang mempunyai mental “The Winner” yang keluar sebagai jawara.

Dalam Neuro Linguistic Programming (NLP), jatuh-bangun dan sukses-gagal adalah dinamika biasa. Kita tidak gagal melainkan ada suatu pelajaran. Inilah makna kiasan dan presuposisi NLP “Tidak ada kegagalan yang ada hanyalah umpan balik.” Jadi, saat target tidak tercapai, maka itu adalah pesan bahwa kita belum mempersiapkan dan melakukan dengan baik proses mencapai target itu.

Ada yang bertanya “Kita sudah melakukannya dengan sempurna dan tetap saja hasil-nya “Zonk”. Kondisi ini mengantar pada presuposisi yang berikutnya “Jika hal yang Anda lakukan tidak menghasilkan, maka lakukan dengan cara yang berbeda.” Kita mungkin akan gagal meratakan gunung dengan menggunakan cangkul sendirian, maka itu kita disediakan opsi lain untuk melakukan tujuan yang sama, mungkin kita menggunakan ekskafator atau dengan gotong royong. Kasus lainnya, kita boleh menggunakan parang untuk memotong pohon sebesar tiang listrik, namun jika kita memiliki kapak untuk digunakan, maka ini jauh lebih efektif.

Simpulannya adalah kadang kita menyalahkan usaha yang belum maksimal dilakukan sehingga berdampak pada hasil yang diharapkan. Padahal kita sebenarnya bisa memilih; memperbaiki metode atau cara kita dalam melakukannya agar energi yang kita gunakan bisa efektif dan efisien.

Tentang Penulis