Flag Counter
22 September 2023

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Naskah Ceramah Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw 1442 H

Oleh: Rektor IAIN Sorong

Sorong, kitorangnews.com – Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Dr. Hamzah, M.Ag., memiliki banyak kelebihan. Selain sebagai akademisi dan pemimpin lembaga pendidikan tinggi, ia juga terkenal dalam hal berdakwah. Kelebihan dalam hal pengaktualisasian ilmu agama melalui bahasa lisan (berpidato) menjadikan ia banyak bermanfaat untuk umat, khusus di tanah tempat ia berkarier, yakni di Sorong, Papua Barat. Berikut salah satu naskah pidato Dr. Hamzah, M.Ag., dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw tahun 2020.


A. Pendahuluan
Pada awalnya, covid19 adalah problem kesehatan dan berimplikasi pada berbagai sektor kehidupan ekonomi, pendidikan, sosial dan bahkan dalam kehidupan keagamaan. Seiring dengan perkembangan covid19, maka implikasi ini berpengaruh secara global dan nasional. Pemerintah Indonesia telah menerapkan langkah-langkah pencegahan dengan menetapkan kebijakan. Salah satu kebijakan yang ditempuhnya adalah menetapkan New Normal. Era ini adalah upaya melakukan penyesuaian diri dari sisi kesehataan, psikologis dan aktifitas ekonomi, agar aktifitas sosial dapat berjalan dalam rangka mendukung produktivitas. Diakui bahwa, sebelum pemerintah menerapkan era ini telah telah dilakukan kebijakan sebelumnya. Bagi umat Islam, nabi Muhammad adalah manusia pilihan. Dia pilih oleh Allah Subahanahu Wa Taala dan ditetapkan oleh-Nya sebagai nabi dan rasul. Sebagai umat Islam yang telah menjadikan nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai patron kehidupan yang dikenal dengan uswatun hasanah, maka sikap dan penyelesaian problema kehidupan perlu ditelaah lebih jauh agar dapat diteladani. Pertanyaan yang dikemukakan adalah bagaimana upaya nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menyikapi dan menyelesaikan problema kehidupan.
Pada kesempatan yang sangat terbatas ini hanya akan dikemukakan dua hal yaitu konsolidasi dan pergerakan yang dilaksanakan oleh nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dalam menyikapi dan menyelesaikan problema kehidupan.


B. Nabi Melakukan Konsolidasi
a. Konsolidasi keluarga
Menurut sejarawan bahwa setelah nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menerima wahyu pertama yang dibawa oleh malaikat Jibril, maka terjadi perbedaan psikologis yang dialami dibanding dengan waktu sebelumnya. Sepulang ke rumah, perbedaan psikologis ini disampaikan oleh nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam kepada Khadijah sang isteri. Suasana “dialog” tercipta dan pada akhirnya atas saran sang isteri, maka Waraqah bin Naufal ditetapkan sebagai tokoh yang dapat memberi pandangan atas berbagai perubahan psikologis yang telah menjadi tema diskusi. Pandangan ini didasarkan pada riwayat yang disampaikan oleh Abdullah ibnu Syaddad dalam tafsir Ath-THabariy.
Bagi nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam keluarga menjadi penting dalam mitra dalam mendukung pengembangan risalah. Beberapa hal perlu digarisbawahi: 1) Khadijah sebagai isteri merespon isu yang menjadi tema diskusi dengan cermat dan memberi pandangan bersifat solutif. 2) Peran khadijah sangat besar dalam mengemban tugas kerasulan nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Dalam konteks new Normal maka peran keluarga sangat penting. Alquran memberikan petunjuk tentang fungsi keluarga. Alquran memperkenalkan doa sebagaimana dalam surah Alfurqan: 74

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ٧٤


Terjemahnya:
Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
Pada ada ayat ini disebutkan tentang qurrata a’yun yang diartikan anak-anak (keturunan) sebagai penyeguk hati. Ibnu Abbas (w.68 H) pada kitab tafsirnya menyatakan bahwa jadikanlah isteri –isteri dan anak-anak sebagai orang shaleh sehingga menjadi penyujuk hati. Pandangan yang lain oleh Abu Ja’far Aththabariy (w. 310 H) dengan mengemukakan riwayat yang dikemukakan oleh Abu Said bahwa orang mukmin akan melihat isteri anak mereka berada dalam ketaatan menyelenggarakan ibadah. Kedua pandangan ini mengantar pada pemahaman bahwa interaksi antar keluarga, ayah dan ibu, ibu dan anak akan yang didasarkan pada ketaatan beribadah memberikan rasa senang dan bahagia dalam suasana kekeluargaan. Kondisi ini diduga memberikan peningkatan imunitas dan produktibitas.


b. Konsolidasi Spritual
Peristiwa isra dan mi’raj, yang dilakukan oleh nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah merespon undangan dari Allah Subhanahu Wataala sebagaimana yang tertera dalam surah al-Isra ayat 1. Mencermati peristiwa yang dialami oleh nabi Muhamamd Shallallahu Alaihi Wasallam dapat disebutkan sebagai pendahuluan atas peristiwa Isra Miraj. Tersebut peristiwa sebagai berikut: 1) Telah wafat Abu Thalib sang paman yang banyak berjasa dalam membantu pengembangan risalah (Sulaeman Ibnu Sahman;Ibnu Atsir). Kontribusi yang diberikan dalam kapasitasnya sebagai sosok yang memiliki kemampuan ekonomi dan tokoh masyarakat. Peran dalam bidang sosial dan politik ini, menjadi penting dalam mengemban risalah kerasulan; 2) Telah wafat sang Isteri yaitu Khadijah. Peran Khadijah pada awal pengembangan risalah kerasulan seperti dikemukakan dan tentu saja kontribusi lainnya juga besar pada tahap selanjutnya.
Oleh sejarawan menyebut pada tahun itu disebut dengan tahun duka cita atau am al-huzn.
Memahami kondisi pra Istra Mi’raj ini dapat dinilai sebagai tahun penuh tantangan dan probelema kehidupan, maka diduga kuat bahwa hikmah diundangnya nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dalam Isra mi’raj adalah melakukan konsolidasi spritual. Kondisi spritual ini yang dalam peristiwa ini berpuncak pada penetapan shalat lima waktu sebagai kewajiban umat Islam.
Penetapan shalat lima waktu, dapat dipahami sebagai upaya yang berfungsi untuk menyelesaikan problem kehidupan sebagai mana yang dipahami dari Alquran, Innashashalata tanha anil fasyai wal munkar.
Dalam kaitannya dengan era new normal, maka kualitas shalat menjadai momentum untuk diperbaiki dan semakin memperbanyak pada bentuk spritual lainnya.

C. Nabi Melakukan Pergerakan
Pergerakan adalah upaya simultan yang dilakukan oleh nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dalam merespon problema kehidupan. Pergerqakan ini anatara lain
1. Menyerahkan urusan kepada ahli
Strategi perang yang memunculkan pola penggarian penggalian pahit yang dikenal dalam sejarah Islam dengan perang khandaq, merupakan pola yang diusulkan oleh Salman al-Farisi. (Ibnu Atsir: al-Kamil) Beliau adalah seorang muallaf dan dalam rapat tentang pencarian pola militer, dia mengusulkan dan usulan itu diterima oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Keahlian Salman al-farisi diperoleh berkat pengalamannya, dan pola ini menandai memperkaya pola milliter pada peperangan dalam Islam.
Posisi Salman yang telah ditetapkan dalam rapat, menunjukkan bahwa nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menunjukkan sebagai ahli dalam bidangnya. Sikap nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang demikian, menjadi contoh yang bahwa urusan akan sukses jika diserahkan kepada ahlinya. Pada konteks eranew normal, bahwa sikap menyerahkan urusann penanganan covid19 kepada ahlilnya dan memberikan ruang yang luas kepada negara untuk menyelesaikan oleh umat Islam adalah bagian dari mencontoh dari sikap nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.


2. Mendoakan Ibnu Abbas

Ibnu Abbas pada masa kanak-kanak telah didoakan oleh nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Doa nabi Muhammad dalam suatu riwayat dinyatakan allahumma allimhul kitab wal hikmah (Ibnu Atsir, Asadul Gabah). Pada perkembangan selanjutnya, Ibnu Abbas lahir sebagai pakar dalam bidang tafsir ayat-ayat Al quran dan karya tafsirnya menjadi rujukan dalam bidang tafsir Alquran dan umumnya pada studi ilmu-ilmu keislmanan.
Perilaku nabi yang mendoakan, sebagai upaya yang bersifat spritual dalam mendorong etos kemampuan akademik Ibnu Abbas. Patut kiranya dalam era new normal, bidang pelaksanaan pendidikan menempatkan bidang spritual seimbang dengan bidang rasionalitas akademik. Bagi peserta didik, pemangku kepentingan pendidikan dan pendidik, sebaiknya memasukkan bagian spritualitas sebagai salah satu indeks yang dalam pencapiaan hasil pendidikan, seimbang indeks sosial dan akademik rasionalitas.

Demikian, mohon maaf atas segala kekurangan. Terima kasih, Minallahil Musta’an Wa’alaihit Tiklan. Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.



Bahan Rujukan:
Alquran dan Terjemahnya
Abu Ja’far Ath-Thabary, Al-Jami’u Al-Bayan Fi Ta’wil Al –Quran.
Ibnu Abbas, dihimpun oleh Muhammad Ibnu Ya’qub al-Fayruz Abadiy, Tanwir al-Miqbas
Ibnu Atsir, Asad al-Ghabah.
Ibnu Atsir, al-Kamil fi ttarikh.
Sulaiman Ibnu Sahman Ibnu Mushlih Ibnu Hamdan Annajdiy, Mukhtashar Sirah Ar-Rasul

Loading

Tentang Penulis