Flag Counter
10 December 2022

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Rektor IAIN Sorong, Hamzah Khariyah sedang menyampaikan taushiyah kepada jamaah

Sorong, kitorangnews.com – Pertanyaan yang mendasar adalah apakah ada puasa yang sia-sia? Maka jawabannya adalah, ada!. Puasa yang sia-sia itu ada manakala puasa tersebut tidak mencapai target. Narasi ini disampaikan oleh Rektor IAIN Sorong, Hamzah Khaeriyah dalam kuliah subuh di Masjid Raya Al-Akbar Kota Sorong, pada Rabu (06/4/2022).

Dalam suatu pekerjaan apapun itu, tentu ada yang mencapai taget (baca: tercapai) dan ada pula yang tidak mencapai target. Ketika pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang itu tidak mencapai target maka pekerjaan itu sia-sia. Sama halnya dengan puasa, puasa merupakan suatu amalan atau aktifitas ibadah seorang hamba kepada Tuhannya manakala tidak mencapai target maka puasa tersebut dapat dikatakan sia-sia.

“Puasa yang kita lakukan ini adalah suatu pekerjaan, maka sangat memungkinkan untuk tercapai ataupun sebaliknya tidak tercapai. Oleh karena itu, amalan ibadah puasa yang dilakukan oleh seorang muslim di dalam bulan suci Ramadhan tidak memenuhi target yang akan dicapai maka itu sama saja dengan -mubazzir– (sia-sia).” Ujar Rektor IAIN Sorong pada kuliah subuh.

Lebih lanjut, puasa secara bahasa memiliki arti yaitu menahan. Pertanyaannya apa yang ditahan? tentunya yang ditahan adalah merusak diri sendiri, merusak orang lain dan merusak hati.

Atas dasar itulah puasa itu diperintahkan kepada umat Islam agar mampu menahan diri sendiri untuk tidak menyakiti dan melukai perasaan orang lain, menahan pikirannya agar tidak tergelincir pada hal-hal yang merugikan dirinya sediri. Dalam pandangan Islam, semua orang itu sholeh, suci dan baik. Namun yang dikhawatirkan adalah tergelincir.

Manakala seseorang telah tergelincir walau sedikit atau kecil maka inilah yang kemudian akan menjadi penyebab masalah besar. Maka puasa ini mendorong kita agar menahan diri dari ketergelinciran kecil sehingga sebagai seorang muslim hendak senantiasa menjaganya.

Di dalam diri manusia terdapat dua potensi yaitu potensi kebaikan dan potensi keburukan. Selanjutnya, potensi yang paling pertama muncul dalam diri manusia adalah potensi kebaikan. Agar potensi kebaikan yang ada di dalam diri senantiasa terjaga maka sebagai umat Islam, diberikan yang namanya perintah dan larangan.

Salah satu perintah Allah yang panjang dan dilakukan selama satu bulan lamanya adalah ibadah puasa. Tentunya terdapat target-target yang harus tercapai sehingga mengantarkannya menjadi manusia bertakwa.

Lantas apa target utama agar seseorang dapat dikatakan sebagai manusia bertakwa melalui amalan ibadah puasa itu sendiri?

Bagi kalangan masyarakat muslim pada umumnya menilai bahwa orang yang bertakwa melalui ibadah puasa itu manakala telah melakukan menahan lapar, minum dan syahwat, melakukan sholat lima waktu, berzakat dan menunaikan kebaikan-kebaikan lainnya.

Namun bagi kalangan yang sudah lebih tinggi tingkatannya, agar menjadi orang bertakwa melalui aktifitas ibadah puasa adalah mereka yang senantiasa menjaga hati dan dirinya agar semakin dekat kepada Allah, mereka semakin sering mengingat dan mendoakan kebaikan orang lain dan senantiasa mengingat dosa-dosa yang telah dilakukannya. Inilah sebenarnya target utama agar menjadi orang yang bertakwa melalui aktifitas puasa di bulan suci Ramadhan.

Capaian target puasa di atas inilah yang kemungkinan menjadi dasar dari Hadis Nabi Muhammas saw. yang memberikan peringatan kepada umat Islam bahwa kebanyakan orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya menahan lapar dan dahaga. Hal tersebut tentu dikarenakan kebanyakan umat Islam tidak mampu menjaga target-target puasa di atas. (Bersambung)

Tentang Penulis