Flag Counter
9 December 2022

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Puasa Ramadhan Tidak Sekedar Menahan Lapar dan Haus

Keterangan foto : gambar Ilustrasi puasa Ramadhan

Sorong. kitorangnews.com – Berkaitan dengan puasa Ramadhan yang tidak sekedar menahan lapar dan haus. Berarti kita sepakat bahwa ada hal lain yang ingin kita ketahui di sini yaitu apa saja yang ditahan selain dari menahan lapar dan haus.

Seorang Pakar Hukum Islam sekaligus seorang Filosof Muslim yang meninggal pada abad kesebelas bergelar sebagai Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali namanya. menulis sebuah buku populer yang banyak beredar di Indonesia berjudul Ihya Ulumuddin. Di dalam buku tersebut, ia membagi puasa menjadi 3 tingkatan.

Tingkatan puasa pertama adalah shoumul ‘umuum (puasa umum), tingkatan ini merupakan tingkatan puasa yang paling rendah karena hanya menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat.

Tingkatan kedua adalah shoumul khushush (puasa khusus), tingkatan ini adalah puasa tingkatan menengah. Tidak hanya menahan perut dan kemaluan dari upaya untuk memenuhi kebutuhan syahwat namun menahan pendengaran, penglihatan, ucapan, tangan-kaki dan seluruh anggota tubuh dari melakukan perbuatan dosa.

Tingkatan ketiga adalah shoumu khushushil khushush (puasa paling khusus), tingkatan ini dalam pandangan Imam Al-Ghazali merupakan tingkatan puasa yang tertinggi karena selain dari menahan perut dan kemaluan untuk memuaskan syahwat serta menaham seluruh anggota tubuh untuk melakukan dosa, pada tahapan ini adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia dan memikirkan selain Allah swt. Pada tingkatan ketiga ini hati tidak boleh lalai dari berdzikir kepada Allah swt. terlebih lagi tumbuh benih-benih kebencian terhadap sesama manusia.

Ketiga tingkatan yang disusun oleh Al-Imam Ghazali ini berdasarkan pada sifat orang yang mengerjakan puasa.

Tentunya dengan melihat fenomena orang yang berpuasa, ada orang yang siang hari berpuasa dengan menahan lapar dan haus namun masih melakukan maksiat, seperti puasa kebanyakan orang atau dalam istilah Imam Al-Ghazali di atas adalah puasa umum.

Kita tidak makan dan tidak minum namun masih sering melihat wa yang dikirim oleh teman-teman itu erkadang yang dikirim itu lucu-lucuan, ada yang menyinggung, menghina, mengumpat dan lain sebagainya.

Selain itu pula, inti utama dari adanya tingkatan orang yang berpuasa dalam kacamata Imam Al-Ghazali ini di samping memberikan kesempatan kepada kita untuk melatih agar lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya juga memberikan pandangan kepada kita bahwa puasa itu tidak hanya sekedar yang berkaitan dengan fisik semata namun sampai kepada tingkatan niat yang tidak terlihat.

Tatkala kita berpuasa maka seyogyanya fisik dan niat senantiasa diarahkan kepada hal-hal yang memiliki makna kemanusiaan dan keagamaan sehingga pada akhirnya adalah menuntun kita kepada pribadi yang bertakwa kepada Allah swt.

Oleh karenanya, sebagai kesimpulan agar puasa Ramadhan tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus adalah membiasakan mengatur waktu kapan kita membaca Al-Qur’an, berapa lama kita beribadah seperti sholat dan zikir, mengurangi diri untuk melihat segala sesuatu di media sosial melalui smartphone atau handphone kita, jika ada keinginan untuk melihat media sosial maka batasi pandangan hanya kepada hal-hal positif  yang merespon nilai kemanusiaan maupun keagamaan, meluangkan waktu untuk banyak berdiskusi dengan orang tua kita mengenai agama. Ini semua harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Sebagai penutup adalah perbanyak berdoa kepada Allah swt. agar kualitas puasa yang dilakukan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan..***

(Artikel ini diintisarikan dari ceramah agama Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag. pada sesi Kajian Islam Sosial di bulan Ramadhan 1443 H)

Tentang Penulis