Flag Counter
3 December 2022

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Menjadi Khairu Ummah dan Rahmatan Lil Alamin Dengan Meneladani Kepribadian Nabi Ibrahim Alaihissalam

Keterangan foto: Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag. sedang menyampaikan khutbah jum’at di Masjid Al-Jihad, Kota Sorong.

Sorongkitorangnews.com – Sebagai umat Islam, kita tidak lama lagi akan mengenang peristiwa yang sangat dahsyat dalam sejarah kehidupan umat manusia. Kita akan mengenang kembali bagaimana Nabi Ibrahim alaihissalam dan putra tunggal dari istrinya yang bernama Siti Hajar yaitu Nabi Ismail alaihissalam.

Pertarungan kejiwaan yang dilakukan oleh satu keluarga terhadap godaan Iblis laknatullah alaihi agar tidak melaksanakan perintah dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’alaa untuk membenarkan mimpinya yaitu perintah untuk menyembelih Nabi Ismail alaihissalam.

Di samping itu, kita juga akan mengenang perjuangan Nabi Ibrahim alaihissalam dalam membangun agama tauhid terhadap mereka yang tidak senang dengan ajakan Nabiyullah Ibrahim alaihissalam.

Demikian pula, terhadap berbagai cobaan ekonomi kehartaan yang bertubi-tubi serta berkenaan dengan kemampuan Nabi Ibrahim alaihissalam untuk memperoleh ketauhidan yang kokoh melalui berbagai pertanyaan-pertanyaan ketauhidan yaitu tentang bagaimana menghidupkan orang yang telah mati.

Banyak sekali peristiwa yang dapat dikenang dari sejarah kehidupan Nabi Ibrahim alaihissalam baik yang sifatnya secara pribadi, berkaitan dengan orang tuanya, keimanannya, hubungan sesama manusia maupun hubungan di dalam keluarganya.

Inilah kita umat Islam, dalam waktu yang dekat kita akan mengenang kembali sepak terjang Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai sosok yang harus dikenang dan dicontohi dalam kehidupan sehari-hari.

Kesuksesan Nabi Ibrahim alaihissalam telah mengantarkan sebagai sosok yang telah sukses dunia dan akhirat di dalam memberikan keteladanan yang baik bagi seluruh umat entah itu di zamannya hingga era kehidupan umat manusia saat ini.

Kepribadian Nabi Ibrahim alaihissalam telah menjadi buah bibir yang baik bagi seluruh generasi hingga akhir zaman.

Salah satu contoh kesuksesan dunia dan akhirat yang dapat diteladani dari Nabi Ibrahim alaihissalam yaitu kepribadiannya yang dermawan terhadap sesama manusia sehingga menjadikannya sebagai sosok yang sangat luar biasa.

Semua agama monotheisme (baca: samawi) telah bersepakat dan mengakui akan sosok Nabi Ibrahim alaihissalam selain sebagai bapak agama tauhid juga dikenal sebagai bapak kemanusiaan.

Nabi Ibrahim alaihissalam selain memiliki ketaatan yang sangat luar biasa kepada Allah subhanahu wa ta’alaa, kehebatannya dalam berdiplomasi dan membangun harmoni antar sesama manusia. Nabi Ibrahim alaihissalam pula menggunakan harta bendanya untuk membangun agama dan kemanusiaan.

Oleh karenanya, dengan kepribadiaan yang dimiliki Nabi Ibrahim alaihissalam inilah kemudian mengantarkannya menjadi buah bibir yang baik bagi setiap generasi yang lahir di muka bumi.

Hal ini diabadikan oleh Allah ta’alaa di dalam Q.S. Asy-Syua’ra:84, ayat ini merupakan salah satu doa Nabi Ibrahim alaihissalam yang berbunyi : “Waj’alli lisaana shidqin fil Aakhiriin”. (Terjemahannya: dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang [yang datang] kemudian).

Doa inilah yang senantiasa dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam kepada Allah subhanahu wa ta’alaa agar menjadi buah bibir yang sejuk, menjadi buah bibir lintas generasi dan lintas agama.

Sebagai umat Islam, kita harus berusaha dan tetap selalu berusaha menjadi menjadi orang yang disenangi tidak hanya semasa kita hidup namun menjadi buah bibir yang baik di lintas generasi setelah kita wafat.

Sebagai umat Islam, kita harus menjadi umat yang rahmatan lil’alamin yaitu umat yang membawa cinta dan kasih bagi seluruh alam dalam arti tidak hanya menjadi rahmat bagi yang memiliki pandangan yang sama namun menjadi rahmat pula bagi yang berbeda pandangan maupun berbeda agama. Begitu pula kepada hewan, tumbuhan dan segenap alam semesta lainnya.

Masalah yang dihadapi oleh umat Islam saat ini adalah belum selesai membangun harmoni di dalam internal sesama umat Islam. Tantangan umat Islam adalah belum mampu menyelesaikan masalah peradaban.

Kita masih disibukkan dengan membangun harmoni bagi diri sendiri dan sesama kelompok. Kita masih gagal membangun harmoni dalam internal sesama pemeluk agama Islam baik itu di dalam bertetangga maupun membina harmoni bagi generasi yang akan datang.

Sebagai umat Islam, kita hendaknya risau agar mampu menjadi sosok yang membawa kesejukan bagi diri sendiri, tetangga, orang lain maupun lintas agama.

Jangan pernah berharap menjadi umat rahmatan lil ‘alamin bagi lintas agama jika sebagai seorang muslim, kita belum mampu menciptakan harmoni bagi diri sendiri maupun orang lain sesama umat Islam.

Di dalam dunia yang nyata, kita membutuhkan sosok yang hendak dijadikan contoh dan mampu pula menjadi contoh di dalam menjaga hubungan baik kepada Allah maupun hubungan baik kepada sesama manusia.

Konflik internal sesama umat Islam di berbagai belahan dunia belum tuntas dan bahkan semakin bertambah banyak.

Salah satunya konflik internal umat Islam adalah umat Islam yang hidup di bawah garis kemiskinan masih sangat banyak. Padahal secara data pertumbuhan ekonomi Islam mulai membaik.

Umat Islam yang dari kalangan mampu secara finansial belum mampu membangun harmoni dengan sesama umat Islam yang berada di bawah garis kemiskinan.

Oleh karenanya, agar kampanye sebagai Umat Islam yang khairu ummah dan rahmatan lil ‘alamin dapat terlaksana dengan baik maka kita sesama umat Islam hendaknya memiliki komitmen dan pandangan serta cita-cita yang sama yaitu bahwa urusan dunia adalah bagian dari tanggung jawab umat Islam.

Persoalan kemiskinan, kelaparan, banjir, sampah, perdamaian dan hubungan sesama manusia adalah bagian dari tanggung jawab umat Islam. Oleh karenanya umat Islam jangan hanya mengurus urusan ibadah individual tetapi juga mengurus persoalan gizi.

Persoalan gizi ini, Insya Allah kita sebagai umat Islam tidak lama lagi tatkala tiba hari raya idul Adha kita akan sama-sama memotong hewan qurban sebagai tanda kita sedang menebarkan gizi kepada orang-orang yang membutuhkan.***

(Artikel ini diintisarikan dari khutbah Jum’at Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag. / Rektor Institut Agama Islam Negeri [IAIN] Sorong, Papua Barat di Masjid Al-Jihad Kota Sorong, pada Jumat 01/7/22)

Tentang Penulis