Flag Counter
3 December 2022

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Keterangan Foto: Rektor IAIN Sorong, Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag. sedang memberikan kultum kepada para jamaah shalat zhuhur di Masjid Quba.

Sorong, kitorangnews.com – Di dalam Al Qur’an, ada satu ayat yang telah kita lakukan dalam aktifitas kita sehari-hari tetapi mungkin belum dihayati dengan baik.

Ayat tersebut termuat di dalm Q.S. Ali-Imran: 31 yang berbunyi:

“Qul in kuntum tuhibbunallaha fattabi’uniy yuhbibkumullahu wa yaghfirlakum dzunuubakum wallohu ghofurun rohiimun”.

Terjemahannya: Katakanlah (Wahai Muhammad)! Seandainya kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ali-Imran:3)

Berdasarkan ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk mencintai Allah itu tidak bisa langsung, harus ada yang menjadi faktor.

Pertanyaannya kemudian adalah apa menjadi faktornya? maka faktornya adalah harus mengikuti Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Semakin kita mengikuti Nabiyullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam maka ketebalan cinta kita kepada Allah semakin kuat.

Begitu pula sebaliknya, semakin kita tidak mengikuti Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam maka semakin tipis kecintaan kita kepada Allah azza wa jalla.

Oleh karenanya, kecintaan kita kepada Allah ta’alaa sangat bergantung pada faktor kecintaan kita kepada Baginda Nabi Besar Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Lebih lanjut, indikator kecintaan kita kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam diukur dari seberapa banyak amalan-amalan sunnah di dalam aktifitas ibadah kita yang kita lakukan dalam 24 jam setiap hari.

Faktor ini di dalam istilah keagamaan Islam dikenal dengan istilah washilah (perantara), semakin banyak perantara yang kita lakukan maka akan menambah kecintaan kita kepada Allah.

Inilah yang saya nyatakan di atas bahwa ada orang yang telah mengamalkannya namun mungkin belum menyadari dan memahami dengan baik.

Seseorang yang mewajibkan dirinya datang ke masjid atau musholla setiap 5-10 menit sebelum adzan berkumandan. Inilah yang disebut dengan perantara.

Ada pula seseorang setiap kali datang ke masjid atau musholla membawa rezeki, setiap kali celengan lewat di hadapannya dia menyumbang atau mungkin menjenguk orang yang sakit dan beberapa amalan sunnah lainnya. Semua ini di dalam Islam disebut dengan washilah (baca: perantara) untuk mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla.

Sekali lagi, semakin banyak perantara-peranta yang kita ciptakan, lakukan dan wajibkan untuk diri kita sehingga menjadi suatu kebiasan maka ketebalan cinta kepada Allah ta’alaa akan tumbuh dan berkembang. Jika semakin sedikit dan semakin sedikit perantara yang kita lakukan yakinilah kecintaan kita akan semakin menurun.

Saudaraku, peebanyaklah melakukan perantara di dalam sehari semalam. Syukur-syukur dalam sehari bisa melakukkan sepuluh kali peranta seperti sholat sunnah, wirid, mengaji, menyumbang, doakan keluarga, bantu orang lain, jenguk orang sakit, panti asuhan dan lain sebagainya.

Semakin banyak yang kita pikirkan untuk membuat perantara maka akan semakin tebal kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebagai manusia biasa, terkadang apa yang biasa kita lakukan itu sering terlupakan. Maka karena itu perlu pula kita saling mengingatkan agar senantiasa mengamalkan apa yang biasa kita lakukan. Ketahuilah mengingatkan seseorang agar melakukan perantara itu adalah suatu kebaikan dan merupakan suatu perantara mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Semoga bermanfaat!

Wallohu muwafiq ilaa aqwamittariiq.

(Artikel ini diintisarikan dari Kultum Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag. / Rektor Institut Agama Islam Negeri [IAIN] Sorong, Papua Barat di Masjid Quba Kota Sorong, pada Kamis 30/6/22)

Tentang Penulis