Flag Counter
3 December 2022

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Gelar Webinar Nasional Pendidikan Moderasi Beragama Secara Virtual, STAI BINAMADANI Undang Rektor IAIN Sorong Sebagai Narasumber

Keterangan foto: Tangkapan layar Rektor IAIN Sorong, Hamzah Khaeriyah sedang memberikan materi strategi dan implementasi moderasi beragama di IAIN Sorong kepada para peserta webinar nasional.

Sorong, kitorangnews.com –  Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Hamzah Khaeriyah menjadi Narasumber pada kegiatan Webinar Nasional Pendidikan Moderasi Beragama di Indonesia secara virtual yang digelar oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Binamadani, Tangerang, pada Kamis (21/7/2022).

Berdasarkan pantauan akhir kitorangnews.com kegiatan ini dihadiri oleh sebanyak lebih kurang 140 peserta webinar yang terdiri dari berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri maupun swasta se-Indonesia.

Selain Rektor IAIN Sorong, hadir pula dua narasumber lainnya, Dr. Fuad Masykur, MA. yang merupakan Dosen STAI Binamadani dan Dr. Thobib Al-Asyhar, M.Si. yang merupakan Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama pada Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kementerian Agama Republik Indonesia.

Tema besar yang diangkat pada kegiatan webinar nasional ini adalah “Strategi dan Implementasi Pendidikan Moderasi Beragama di Indonesia” dengan dimoderatori oleh Achmad Saeful selama lebih kurang dua jam.

Hamzah Khaeriyah dalam paparan materinya menyampaikan, salah satu alasan mengapa moderasi beragama dipandang penting untuk dikaji bersama adalah dikarenakan moderasi beragama merupakan ajaran Islam.

“Moderasi beragama merupakan ajaran Islam dikarenakan Al Qur’an telah memberikan ajaran dasar, mengembangkan visi besar sebagai agama rahmatan lil’alamin. Al Qur’an pula mengembangkan ajaran tolong menolong serta menyebut umat Islam sebagai khaerul ummah. Ketiga ajaran Al-Qur’an ini harus terwujudkan dalam realitas kehidupan sehari-hari.” Paparnya.

Hamzah Khaeriyah mengambil ilustrasi praktik moderasi beragama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membangun komunitas lintas agama dan suku di Madinah yang diikat melalui piagam madinah.

Lebih lanjut, Hamzah Khaeiriyah menyampaikan, alasan berikutnya mengapa moderasi beragama sangat urgen dikaji bersama adalah dikarenakan realitas kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

“Kita lihat bagaimana kehidupan kita di Indonesia. Kita memiliki semboyan dari leluhur kita yaitu Bhineka Tunggal Ika. Kita terlahir dengan perbedaan-perbedaan yang mendasar akan tetapi kita harus bersatu.” Tambahnya.

Pada akhir sesi materinya, Rektor IAIN Sorong mengenalkan sedikit keadaan geografis dan demografis kota Sorong secara khusus dan Papua Barat secara umum yang di mana IAIN Sorong berada.

“Kota Sorong dikenal sebagai kota perantauan, banyak perantau dari berbagai daerah di Indonesia yang datang mencari kehidupan di kota Sorong sehingga secara tidak langsung memunculkan keberagaman suku, agama dan latar belakang kondisi sosial masyarakat.” Ungkapnya.

Ia pun menambahkan, kota Sorong dalam praktik bermasyarakat memiliki kearifan lokal yang sangat kental dengan hubungan perdamaian dan hubungan lintas umat beragama

“Selanjutnya, kearifan lokal di kota Sorong khususnya dan Papua Barat secara umum, memiliki kearifan lokal yang sangat kental dengan hubungan perdamainan dan lintas umat beragama. Kita lihat misalnya, ada ungkapan kebersamaan seperti kitorang, satu tungku tiga batu, satu rumah empat pintu.” Unggahnya.

Hamzah Khaeriyah pun selaku Rektor IAIN Sorong memaparkan bagaimana strategi dan implementasi moderasi beragama di lingkup IAIN Sorong.

“Strategi moderasi beragama di IAIN Sorong diwujudkan melalui tagline harmoni dan produktivitas serta memiliki 4 pilar pembinaan yaitu keislaman, keindonesiaan, kepapuaan dan kepemimpinan.” Paparnya.

Adapun terkait dengan implementasi moderasi beragama di IAIN Sorong, Hamzah Khaeriyah menyampaikan, terbentuknya Rumah Moderasi Beragama IAIN Sorong yang diketuai oleh seorang Pendeta, akan dibukanya program studi sosiologi agama dan membuka peluang kepada mahasiswa non Muslim untuk melanjutkan studi magister (S2).

Kegiatan webinar nasional diakhiri dengan sesi tanya jawab dan diskusi oleh peserta webinar dengan para narasumber.***

Tentang Penulis