Flag Counter
15 June 2024

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Kenali Tiga Momentum Utama Makna Pergantian Tahun Baru Hijriah

Keterangan foto: Rektor IAIN Sorong, Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag. sedang menyampaikan khutbah Jum’at kepada para jamaah Masjid Raya Al-Akbar Kota Sorong, pada Jum’at 29 Juli 2022. (Kitorangnews/RR).

Sorongkitorangnews.com – Tahun baru hijriah kini telah memasuki usia yang ke-1444 tahun. Pergantian awal tahun hijriah yang diperingati setiap tahunnya dapat memberikan arti yang sangat besar bagi setiap umat Islam manakala umat Islam mampu memaknai, menghayati, menyadari serta melakukan amalan kebajikan sepanjang tahun.

Pembaca kitorangnews.com yang budiman! tahun baru hijriah akan tetap hadir meskipun nantinya kita telah tiada. Peringatan tahun baru hijriah akan menjadi peristiwa rutin setiap tahun di dalam kehidupan kita.

Ketahuilah, tahun baru hijriah merupakan bagian dari sejarah dan temuan besar umat Islam dalam rangka menghargai waktu dan membangun keinginan serta mencapai cita-cita.

Pergantian tahun baru hijriah bagi umat Islam merupakan kesempatan besar dari Allah ta’alaa.

Allah subhanahu wa ta’alaa masih memberikan kesempatan untuk hidup beribadah dan kesempatan ini dapat dipastikan tidak akan berulang sampai kapanpun.

Pembaca kitorangnews.com yang budiman! setidaknya terdapat tiga momentum utama yang tersirat di dalam peristiwa pergantian awal tahun baru hijriah yang kita peringati setiap tahunnya di antaranya yaitu:

Momentum Evaluasi / Muhasabah Diri.

Saudara pembaca budiman! Kesempatan memasuki awal tahun hijriah yang Allah ta’alaa berikan ini merupakan kesempatan yang terbaik untuk kita melakukan evaluasi atau muhasabah diri.

Seorang muslim pasti menginginkan pergantian tahun baru hijriah sebagai sebuah kesempatan dan menjadi momen terbaik untuk mengevaluasi diri melalui perenungan terhadap apa yang kita lakukan selama satu lalu dan apa yang akan kita lakukan sepanjang satu tahun yang akan datang.

Kesempatan peringatan pergantian tahun baru hijriah hendaknya dijadikan sebagai momentum evaluasi terhadap apa yang pernah kita lakukan selama satu tahu lalu entah itu kebaikan dan keburukan yang kita perbuat selama satu tahun.

Islam mengajarkan kepada kita bahwa evaluasi / muhasabah diri perlu dilakukan baik pekerjaan tersebut berhasil maupun gagal atau mungkin sebelum maupun sesudah dilakukan.

Islam mengajarkan kepada kita agar senantiasa melakukan evaluasi agar memastikan apakah bekal yang akan dibawa ke tempat asal kita (baca: kampung akhirat) telah cukup atau belum manakala sewaktu-waktu kematian menghampiri.

Momentum Bersyukur Atas Nikmat Allah

Makna selanjutnya dari pergantian awal tahun baru hijriah adalah memberikan sinyal kepada kita agar senantiasa bersyukur kepada Allah subhanahanu wata’alaa atas berbagai nikmat yang telah diberikan kepada kita.

Bersyukur kepada Allah ta’ala dapat dilakukan melalui lisan yaitu dengan memperbanyak tahmid dan tahlil. Kalimat pujian dan kalimat tauhid yang kita panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’alaa karena telah mencurahkan berbagai kenikmatan kepada kita sepanjang tahun yang telah dilewati.

Namun perlu saudara pembaca ketahui pula bahwa ungkapan rasa syukur yang sesungguhnya adalah mengukur kemampuan kita lalu kemudian melakukan amalan kebaikan melampaui kemampuan kita.

Ketika kita mampu mengukur kemampuan kita lalu kemudian berbuat lebih dari kemampuan kita maka pada hakikakatnya itulah makna dari bersyukur yang sesungguhnya.

Sebagai contoh, kalau mungkin kemampuan kita hanya mampu membaca Al-Qur’an setiap hari satu lembar lalu kemudian kita menambah setengah lembar hingga menjadi satu setengah lembar maka kita termasuk orang bersyukur.

Sebaliknya, jika kemampuan kita hanya setengah halaman dalam sehari membaca Al-Qur’an namun kita hanya membaca beberapa baris saja maka kita termasuk orang yang mubazzir sebab kita melakukannya di bawah rata-rata kemampuan kita.

Maka melalui artikel ini saya mengajak kepada para pembaca budiman, mari kita sejenak berpikir apa yang menjadi kemampuan kita lalu kemudian kita melakukannya di atas rata-rata kemampuan kita terebut.

Allah subhanahu wa ta’alaa berfirman di dalam Q.S. Ibrahim:7 yang berbunyi:

“Wa idz ta’adzdzana robbukum lain syakartum laazidannakum walain kafartum inna adzabi lasyadid.”

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Pembaca budiman! makna ayat di atas adalah tatkala kita mampu bersyukur dengan melakukan kebaikan di atas kemampuan kita maka kebaikan itu akan bertambah, sebaliknya tatkala kita melakukan kebaikan di bawah kemampuan kita maka kita termasuk orang yang ingkar nikmat dan akan menerima siksaan yang besar (baca:keras).

Momentum Memperbaharui Niat

Selanjutnya, sebagai seorang muslim yang taat dan ihsan hendaknya menyadari bahwa pergantian tahun baru hijriah adalah momentum untuk memperbaharui niat.

Niat kita harus semata-mata karena Allah ta’alaa. Tidak boleh ada niatan lain selain ditujukan kepada hal yang mendatangkan keridhoan Allah ta’alaa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peristiwa hijrah dahulu dari kota Makkah ke kota Madinah sangat mengoreksi tentang niat.

Ada di antara kaum muslimin kala itu yang hendak hijrah karena hendak menginginkan sesuatu tetapi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengoreksi niat tersebut bahwa hijrah dilakukan karena harus semata-mata karena Allah ta’alaa.

Boleh jadi kita melakukan amalan dan gerakan yang sama namun tidak menutup kemungkinan hasil yang kita dapatkan belum tentu akan sama. Itu semua dikarenakan adanya perbedaan niat. Oleh karenanya, niat harus ditujukan semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’alaa.

Pembaca budiman di manapun anda berada! inilah kiranya tiga momentum peringatan tahun baru hijriah yang hendak kita sebagai umat Islam harus senantiasa dibangun sehingga setiap tahun kita menggapai prestasi dan peningkatan di dalam kehidupan kita.

Kita berharap dengan momentum pergantian tahun baru hijriah ini kita semua mampu meraih keridhoan Allah melalui cara berbuat kebaikan secara konsisten yang di dalam bahasa agama dikenal dengan Istiqamah agar memperoleh kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.

Al-Qur’an memberikan pesan kepada semua bahwa bagaimana kehidupan ini harus dikelola. Kehidupan ini bukan hanya hadir untuk kita tapi untuk orang lain. Kehidupan ini adalah dunia nyata bukan dunia khayalan. Kehidupan ini bukan hanya disediakan untuk generasi yang hidup saat ini namun untuk antar generasi. Oleh karenanya umat Islam tidak boleh silau dan kehilangan arah dalam melihat kehidupan ini.

Allah mendatangkan agama Islam ini untuk merubah cara berpikir kita, pola pikir yang hendak dibangun adalah Allahu Akbar yakni Allah Maha Besar. Ketika meyakini Allah Maha Besar maka selain Allah maka kedudukannya sama saja dengan kita. Inilah kemandirian yang diajarkan kepada kita.

Sebagai kunci adalah jangan pernah silau dengan masalah yang kita hadapi dan jangan pula silau terhadap kebaikan yang pernah kita lakukan.

Dalam kaitan ini Allah memberikan dua resep yaitu “wasta’inu bisshobri was sholah fa innaha lakabiirotun illa ‘alal khaasyi’iin”

Dua resep kehidupan itu yang kita jadikan sebagai tameng adalah sabar dan shalat.

Shalat adalah ibadah, shalat adalah perintah ketaatan. Shalat adalah bukti ketundukan kita kepada Allah subhanahu wa ta’alaa.

Secara kasat mata, shalat adalah ritual yang sederhana yang dilakukan namun proses tentang shalat sangat panjang yaitu dimulai dari bersuci dan memakai pakaian yang suci, memilih tempat suci, menghadap kiblat dan mengetahui masuknya waktu shalat serta mengetahui pembatal-pembatal shalat setelah itu melakukan gerakan dari takbir hingga salam.

Tameng yang kedua adalah sabar, sabar itu adalah penyanggah, sabar mengetahui batas kemampuan kita namun kita belum melakukan kesabaran. Sabar itu tahu akan arti dan kesempatan tapi terkadang kita menunggu kesempatan yang tepat.

Sabar itu maknanya adalah penuh perhitungan dalam banyak hal. Sabar itu mencerminkan kematangan di dalam berhitung.

Sabar itu sangat sederhana namun orang yang sabar adalah orang yang memiliki kedewasaan sosial, kedalaman spritual dan kematangan dalam beribadah.

Orang yang sabar pasti akan memperoleh keberhasilan. Tidak semua orang mampu sabar sebab prosesnya sangat panjang dan penuh liku-liku, tantangannya sangat besar dan penuh pemaafan dan pemakluman serta pengabdian.

Semoga bermanfaat!.

(Artikel ini diintisarikan dari Khutbah Jumat Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag. / Rektor Institut Agama Islam Negeri [IAIN] Sorong, Papua Barat di Masjid Raya Al-Akbar Kota Sorong, pada Jumat 29/7/22)

Loading

Tentang Penulis