Flag Counter
3 December 2022

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag. tengah memberikan taushiyah ba’da Shalat Dzhuhur di Masjid Al-Akbar, Kota Sorong, Selasa, 23 Agustus 2022. (Kitorangnews/RR).

Sorongkitorangnews.com – Tak terasa kita telah berada pada minggu terakhir di awal tahun hijriah bulan Muharram 1444 Hijriah, Jika kita melihat di dalam buku-buku kajian keislaman yang ada kaitannya dengan hijrah, sebagian besar ulama memulai kitab-kitab dasar keislaman mereka dengan baabul niyyat (bab tentang niat, terj.).

Dalam Islam, niat menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Niat inilah yang kemudian menjadi indikator di dalam membedakan antara tujuan dari amalan manusia satu dengan yang lainnya dan apakah aktivitas tersebut dinilai sebagai ibadah atau bukan.

Inilah salah satu kemampuan para ulama terdahulu di dalam menyusun kajian dasar-dasar keislaman pada kitab-kitab mereka.

Selanjutnya, terkait dengan niat, ulama pun menambahkan pembahasan al-tartiibu (tertib, terj.), artinya adalah tertib di dalam melakukan rangkaian ibadah.

Misalnya, di dalam berwudhu, maka diawali dengan niat dan tertib yaitu dilanjutkan dengan mencuci kedua telapak tangan hingga mencuci kedua kaki. Tidak bisa kemudian diputar atau diacak semuanya dilaksanakan dengan tertib.

Inilah gagasan para ulama pada kajian dasar keislaman mereka bahwa di dalam beribadah selain niat maka selanjutnya harus dilaksanakan secara tertib.

Tertib di sini tidak dapat dipahami hanya sebatas dengan melaksanakan secara teratur rangkaian suatu ibadah. Namun tertib di sini merupakan bagian dari pola pikir umat Islam.

Mengutip Q.S. Al-Fatihah/1:5 yang berbunyi: “Iyyaaka na’budu wa Iyyaka nasta’iinu”. (terjemahannya: hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan).

Ayat di atas didahulukan dengan menyembah kepada Allah azza wa jalla lalu kemudian disusul dengan meminta pertolongan.

Artinya adalah sebagai seorang hamba maka hendaknya mendahulukan menyembah kepada Allah subhanahu wa ta’alaa terlebih dahulu sebelum meminta pertolongan. Inilah yang kemudian disebut dengan tertib.

Sama halnya di dalam bekerja, kita harus mendahulukan apa yang menjadi kewajiban kita daripada hak kita. Dalam hal tertib ini juga kita harus bekerja lalu kemudian menunggu hasil. Kalau tidak ada yang dikerja maka tidak ada yang akan ditunggu sehingga secara otomatis tidak ada yang akan diharap.

Kendatipun niat, tertib dan mendahulukan ibadah adalah suatu keharusan yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum meminta pertolongan. Namun hal terebut tidak berarti bahwa meminta pertolongan kepada Allah ta’alaa sebelum beribadah tidak dapat dilakukan. Hal ini tentu didasari dengan pertolongan dan rahmat Allah ta’alaa itu lebih besar dari segala usaha kita.

“…wa rahmatiy wasiat kulla syaiin…”

Terjemahannya: “…dan rahmatKu meliputi segala sesuatu…”. (Q.S. Al-A’raf/7:156)

Tertib merupakan langkah awal agar kita terbiasa beribadah, dengan tertib maka kita akan terbiasa mengatur kehidupan kita. Namun di atas segalanya adalah rahmat Allah ta’alaa.***

(bersambung…)

(Artikel ini diintisarikan dari Kultum Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag. / Rektor Institut Agama Islam Negeri [IAIN] Sorong, Papua Barat di Raya Al-Akbar Kota Sorong, pada Selasa 23/8/22)

Tentang Penulis