Flag Counter
10 December 2022

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Foto: koleksi editor kitorangnews.com

Sorong, kitorangnews.com – Melalui undangan resmi yang diposting oleh Kepala Subbagian Administrasi Umum, tanggal 20 Juli 2020, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, mengundang semua dosen PNS, Dosen Tetap Bukan PNS, dosen LB, dan alumni guna membahas proses menuju kemandirian alumni.


Kegiatan yang bertajuk Diskusi Dosen dengan tema “Menakar Reformasi Perkuliahan Menuju Kemandirian Alumni IAIN Sorong” tersebut dilaksanakan secara virtual menggunakan aplikasi zoom meeting, Selasa (21/7).
Pelaksanaan kegiatan secara daring ini menunjukkan bahwa IAIN Sorong masih memberlakukan sistem kerja dari rumah (WFH). Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mencegah penambahan penyebaran virus corona yang semakin hari semakin bertambah.
Kegiatan yang melibatkan seluruh komponen tenaga pendidik (dosen) IAIN Sorong serta seluruh jajaran pimpinan berlangsung alot.


Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ekarina Katmas, M.E., menjadi pembuka acara, sembari berharap acara bisa berlangsung lancar. Kemudian acara dilanjutkan dengan penyampaian materi secara berurutan dari ke empat narasumber yang ada. Retor IAIN Sorong, Dr. Hamzah, M.Ag., didaulat sebagai narasumber pertama, kemudian diikuti oleh Dr. Hasbi Siddik, M.Pd., sebagai narasumber ke dua, Drs. Hasbullah, Ph.D., narasumber ke tiga, dan Dr. H. Surahman Amin, Lc., M.A., sebagai narasumber ke empat. Moderator sebagai pemimpin acara diemban oleh Wakil Ketua I, Dr. Muhammad Rusdi Rasyid, M.Pd., dan Dr. Sudirman, M.H.I., sebagai notulen.


Sedangkan Wakil Ketua III, Anggota DPRD Kota Sorong (H. Muh. Taslim, M.Pd.), Sekretaris Jurusan Dakwah, Kepala Unit Perpustakaan, Kasubbag Adum, dan Kepala Unit TIPD, ditugaskan sebagai penanggap utama.
Acara yang dimulai pada pukul 10.00 WIT tersebut membutuhkan banyak waktu mengingat materi diskusi yang menarik. Dr. Muh. Rusdi Rasyid, selaku moderator langsung memberikan waktu kepada rektor IAIN untuk memaparkan materinya, setelah ia membacakan para pimpinan dan tamu yang ditugaskan sebagai penanggap.


Dalam penyampainnya, rektor mengatakan apakah reformasi perkuliahan sudah dilakukan di IAIN Sorong atau belum. Ia juga menegaskan kalau kegiatan diskusi dosen ini merupakan kegiatan perdana.
“ini merupakan kegiatan perdana, dan kita akan melaksanakannya sampai beberapa kali ke depan, bisa saja sampai 5 edisi” tegasnya.
“Bagaimana standar kemandirian alumni itu, lanjut rektor, yaitu mereka harus mampu memahami kompetisi dirinya dan mampu menyebarkan ke orang lain, dan lebih bagus lagi ia mampu membangun komunitas dari kemampuan dirinya” paparnya.


Di sisi lain, rektor juga sedikit menilai persamaan persepsi (kolektivitas) para dosen dalam memberikan doktrin penyiapan kemandirian alumni kepada mahasiswa.
“Standar minimal dosen (S.2), tapi apakah kita sudah memiliki kolektivitas untuk melihat segala problematika yang ada” ungkapnya.
Di penghujung penyampaiannya, rektor menggambarkan kondisi kampus IAIN saat ini sekaligus menyarankan kepada seluruh stakeholders yang ada untuk memperkuat jejaring dan membudayakan pemanfaatan teknologi informasi.
“kampus itu memiliki era figur, tetapi figur sudah tidak terlalu menentukan. Kampus bereputasi dan kampus dunia maya lah yang mesti diperkuat, karena di sinilah persaingan sangat ketat” tutupnya.

Beda halnya dengan apa yang disampaikan oleh narasumber ke dua Dr. Hasbi Siddik, ia menegaskan supaya di setiap kegiatan pembentukan karakter, semua komunitas yang ada di lingkungan kampus harus dilibatkan.
“kita usahakan alumni kita harus meiliki pekerjaan, salah satu caranya adalah membentuk perilaku (keimanan dan ketakwaan). Praktik yang sudah dilakukan di IAIN Sorong, seperti pelaksanaan salat berjamaah saat waktu tiba dan pembinaan mental satu kali seminggu. Kita perlu memandirikan mahasiswa oleh karenanya kita harus melibatkan semua komunitas yang ada di lingkungan kampus termasuk mahasiswa” paparnya.

Sementara Drs. Hasbullah, Ph.D., sebagai narasumber ke tiga banyak mengutarakan perihal pengalaman sewaktu menjadi mahasiswa S. 1, S. 2, dan S. 3.
“Waktu saya kuliah sarjana di IAIN Ujung Pandang tahun 1987, saya merasakan ciri khas institusi, yaitu kita diajarkan untuk memecahkan masalah. Mahasiswa disuruh membawa masalah ke kampus, kemudian diajak untuk mendiskusikan masalah tersebut” ceritanya.

Selepas penyampaian dari pemateri ke tiga, selanjutnya giliran Dr. Surahman Amin, Lc., M.A. dipersilakan oleh moderator untuk menyampaikan presentasinya.
Direktur Pascasarjana IAIN Sorong tersebut lebih banyak dan fokus mengulik terkait dengan hal-hal yang harus dilakukan untuk menuju gerbang kesuksesan.
“kalau ingin menjadi ‘Catur Sukses’, mahasiswa harus memiliki pribadi yang baik, sosial yang baik, akademik yang baik, maka karier akan sukses juga” tuturnya.

Selepas penyampaian materi dari Direktur Pascasarjana, giliran berikutnya adalah para penanggap yang diberikan waktu oleh moderator untuk menyampaikan tanggapannya. Wakil Ketua III, H. Umar Sulaiman, M.Pd., sebagai penanggap utama menyampaikan bahwa ada satu pernyataan yang bisa disimpulkan dari ke empat narasumber.
“kita harus mengintegrasikan ilmu agama dan karier dalam semua mata kuliah” ucapnya menyimpulkan.

Kegiatan tersebut sebagai wujud respons terkait Permendikbud No. 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, yang di dalamnya terkandung muatan ‘merdeka belajar, belajar merdeka’.
IAIN Sorong selaku penyelenggara pendidikan tinggi mesti harus responsif dalam menanggapi segala bentuk perubahan regulasi yang ada. Tidak hanya itu, kampus juga harus memiliki perencanaan jangka pendek maupun panjang yang efektif dan efisien, logis, dan kontekstual. Sebab, perubahan dunia saat ini khususnya di dunia pendidikan terjadi secara cepat, sehingga apabila tidak direspons dengan cepat, maka ketertinggalan lah yang dialami. *Lalu

Tentang Penulis