Flag Counter
10 December 2022

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Sosialisasi Ala IAIN Sorong di Masa Pandemi

Kitorangnews.com – Pandemi Covid-19 tak kunjung reda. Februari 2021 penyebaran virus corona di Indonesia genap berusia satu tahun. Semua sektor secara perlahan sudah mulai berbenah. Akan tetapi, kebijakan dalam hal pencegahan penyebaran covid-19 masih diberlakukan oleh pemerintah. Tak terkecuali di bidang pendidikan. Sampai saat ini hampir 95 persen lembaga pendidikan di seluruh Indonesia masih menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh.


Banyak komentar yang muncul akibat kebijakan tersebut, yang muncul dari para wali murid. Bisa dikatakan sebagian besar orang tua murid tida setuju bahkan sudah angkat tangan dengan sistem belajar dari rumah. Banyak kendala yang menjadi alas an mereka menolak sistem belajar jarak jauh tersebut. Mulai dari masalah fasilitas belajar yang mengharuskan para siswa memiliki smartphone sampai pada kendala jaringan internet. Ada juga wali murid yang mendadak jadi guru, sehingga bisa langsung merasakan betapa sulitnya menjadi pengajar (guru).


Serangkaian permasalahan tersebut sangat memukul para pelaku pendidikan (guru dan murid). Semua berharap pandemi ini segera berlalu, karena bukan hanya sektor pendidikan saja yang terhambat, tetapi semua sektor mengalami hal yang sama.
Khusus lembaga pendidikan tinggi, banyak mengalami perubahan sistem. Seperti proses pembelajaran yang dilaksanakan secara daring, proses pelayanan kemahasiswaan, wisuda, ujian, ospek, dan proses sosialisasi penerimaan mahasiswa baru (PMB) dipaksa mengubah sistem menjadi daring.


Menyikapi kondisi tersebut, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong membuat cara dan strategi yang sesuai dengan kenormalan baru. Sebut saja dalam hal kegiatan sosialisasi. Sosialisasi penerimaan mahasiswa baru baik melalui skema SPAN PTKIN, Jalur Mandiri, dan sebagainya tidak seleluasa pada tahun sebelum covid-19 mewabah. Untuk itu, berbagai cara mesti dilakukan oleh IAIN Sorong dalam melakukan proses sosialisasi.
Seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh IAIN Sorong adalah Kegiatan Silaturahim Tokoh dengan tema “Penguatan Kelembagaan dalam Membangun SDM Berbasis Pendidikan Pesantren di Papua Barat”. Kegiatan yang sudah terlaksana pada Kamis, 11 Februari 2021 tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh, yaitu Kabid Pendis Kanwil Papua Barat, Rais Syuriah PWNU Papua Barat, Ketua PCNU Kabupaten/Kota se-Papua Barat, Pengelola Pondok Pesantren NU se-Papua Barat, dan para pimpinan IAIN Sorong.
Kegiatan diawali dengan pengantar atau sambutan oleh Rektor IAIN Sorong, Dr. Hamzah, M.Ag. Dalam sambutannya, rektor menyampaikan bahwa disparitas atau kesenjangan dalam beragama harus segera dicarikan solusi. Di sisi lain, keberadaan pesantren bisa menjadi solusi dalam hal ini. Namun penguatan manajemen pesantren harus diperbaiki dan dikuatkan.


“saya rasa keberadaan pesantre-pesantren kita sudah bisa dikatakan luar biasa, tinggal bagaimana manajemennya yang harus kita perbaiki” ungkapnya.


Ia juga menyampaikan tujuan diselenggarakan kegiatan silaturahim tokoh tersebut, agar bagaimana IAIN Sorong bisa melakukan kolaborasi dengan para tokoh NU dan para pengasuh pndok pesantren yang ada di Papua Barat.
“penguatan kolaborasi dan jaringan harus kita lakukan dan perlu kita tingkatkan. Dalam hal ini IAIN Sorong harus bisa melakukan kolaborasi dengan para tokoh NU dan pengasuh pondok pesantren khususnya yang ada di wilayah Papua Barat” tutupnya.
Selain bertujuan untuk melakukan kolaborasi antar lembaga NU dengan perguruan tinggi dalam hal penguatan kelembagaan berbasis pendidikan pesantren, kegiatan tersebut juga tidak lepas dari bagaimana membentuk kolaborasi dalam hal perekrutan mahasiswa baru. Melalui Sumarsi, M.Pd., selaku salah satu bagian dari kepanitiaan SPAN-PTKIN 2021 IAIN Sorong diberikan kesempatan oleh moderator untuk menyampaikan perihal penerimaan mahasiswa baru 2021. Ia menyampaikan bahwa IAIN Sorong dan puluhan PTKIN yang ada di Indonesia sudah mulai melakukan sosialisasi SPAN-PTKIN. Ia juga tidak lupa mengajak kepada peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut, yang sebagian merupakan pengasuh yayasan (MTsN dan MAN) yang ada di Papua Barat untuk melanjutkan informasi tentang SPAN-PTKIN kepada para siswa.
Salah satu dari peserta yang berasal dari pondok pesantren di Manokwari merspons baik apa yang disampaikan oleh Sumarsi tersebut. Bahkan ia menyinggung perihal penempatan mahasiswa KKN dan PPL yang semestinya bisa menjadi wadah sosialisasi bagi kampus IAIN Sorong, belum dilakukan. Ia meminta ke depannya supaya IAIN Sorong mengirim mahasiswa untuk melakukan kegiatan PPL dan KKN di sekolah-sekolah agama Islam di Manokwari.

Tentang Penulis