Flag Counter
10 December 2022

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Sorong. kitorangnews.com – Pertanyaannya adalah apakah puasa itu mengantar kepada keshalehan sosial? Maka jawabannya adalah Iya. Selanjutnya, apakah puasa hanya bicara tentang keshalehan sosial jawabannya tidak.

Mengapa istilah keshalehan sosial itu muncul? Hal tersebut dikarenakan kebanyakan umat Islam kerap kali hanya mementingkan keshalehan pribadi seperti berpuasa, membaca Al-Quran dan bentuk praktik ibadah pribadi lainnya namun melupakan kebaikan di ruang publik yaitu hubungan sosial kemasyarakatan seperti memberikan infak dalam rangka mengurangi kepapaan, memberikan beasiswa dan fasilitas kepada orang yang mau belajar dan aspek sosial lain sebagainya itu yang kurang dilakukan.

Hal di atas inilah kemudian muncul istilah keshalehan sosial. Jadi ada perbedaan yang sangat signifikan antara aktifitas individual dengan aktifitas sosial sehingga ada gerakan untuk menghidupkan semangat aktifitas sosial.

Istilah keshalehan sosial sendiri mengandung makna membangun kepedulian sosial melalui pengaplikasian nilai-nilai islamis dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karenanya, konsep Islam yang paling dekat pengamalan keshalehan sosial adalah amal jarriyah.

Lebih lanjut, kebaikan(baca:keshalehan) dalam Islam mengandung dua dimensi, yaitu kebaikan individual dan kebaikan sosial. Seperti contoh orang yang sedang berdoa, kelihatannya itu merupakan ritual individual. Tetapi ketika mendoakan dirinya sendiri lalu dilanjutkan dengan mendoakan orang lain seperti mendoakan kedua orang tua, teman yang sedang sakit, mendoakan keselamatan dunia dan akhirat atau mendoakan yang terkait dengan ruang-ruang publik lainnya maka inilah masuk menjadi bagian dari keshalehan sosial.

Sebagai seorang mukmin, puasa Ramadhan yang telah dilewati kemarin dijadikan sebagai momentum untuk mentransformasi atau melatih diri dan hati agar lebih terbuka serta lebih peka terhadap saudara-saudara di sekitar kita yang kesulitan dalam hal ekonomi melalui pelaksanaan zakat, infak dan shodaqoh sehingga tumbuh rasa simpati, empati maupun solidaritas atas kesulitan yang mereka alami.

Salah satu cara yang sering dilakukan adalah mendorong masyarakat muslim agar gemar membayar zakat menunaikan (baca: zakat mal/perhiasan) bagi yang belum berinfak, dan bersedekah sebagai contoh di kota/kab. Sorong.

Sebagai upaya untuk mempertahankannya, di bulan Syawwal ini kemudian kembali dipupuk dan disemai keshalehan sosial tersebut maka tentu ke depannya akan disinyalir mampu menghilangkan strata sosial, ragamnya ekonomi maupun kehidupan pribadi di dalam bermasyarakat.

Keshalehan pribadi maupun keshalehan sosial tidak dapat dipisahkan dalam menggapai predikat takwa sebagai esensi dari perintah berpuasa.***

(Artikel ini diintisarikan dari ceramah agama Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag. pada sesi Kajian Islam Sosial di bulan Ramadhan 1443 H)

Tentang Penulis