Flag Counter
3 December 2022

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

Keterangan Foto: Dr. Hamzah Khaeriyah, Rektor IAIN Sorong sedang membawakan materi kultum ba’da shalat dzhuhur di Masjid Raya Al-Akbar Kota Sorong, Papua Barat.

Sorongkitorangnews.com – Al-Quran sebagai pedoman suci bagi umat manusia telah memberikan pernyataan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’alaa sebagai zat yang Maha Agung dan Maha Mulia telah memberikan kepada umat Islam jalan yang lurus, sehingga dengan adanya jalan lurus tersebut apakah manusia mampu bersyukur atas hidayah-Nya atau sebaliknya, yakni mengingkari hidayah tersebut.

Hal tersebut ditegaskan di dalam Q.S. Al-Insan ayat 3 yang berbunyi : “Innaa Hadainahu as-Sabiila, imma Syaakiron wa imma Kafuuron.”

Terjemahannya : “Sesungguhnya kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan adapula yang ingkar.”

Secara makna, hidayah diartikan sebagai pengantar ke jalan yang lurus. Sebagaimana yang tertuang pada surah Al-Fatihah yang sering kita mohonkan di dalam sholat, yaitu : Ihdinaasshiroothol Mustaqiim yang dapat dimaknai dengan pemaknaan “antarkanlah kami yaa Allah kepada jalan yang lurus.”

Kembali kepada ayat 3 dari surat Al-Insan di atas, ungkapan rasa syukur atas anugerah jalan lurus yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’alaa kepada kita semua itu tidak semata-mata muncul dari dalam diri sendiri namun itu disebabkan oleh pengaruh dari hidayah Allah.

Ayat ini tentunya memberikan pelajaran kepada kita semua bahwa manifestasi kesyukuran kepada Allah subhanahu wa ta’alaa yang dilakukan melalui ibadah sebagai bentuk ketaatan hendaknya didasari pengetahuan tambahan bahwa itu merupakan hidayah Allah.

Apabila seseorang telah menghayati dan terpatri di dalam hati bahwa segala bentuk ketaatan yang dilakukannya adalah semata-mata merupakan hidayah dari Allah subhanahu wa ta’alaa, maka niscaya ia tidak akan mengantarkan dirinya kepada bentuk kesombongan, merasa di atas angin atau mungkin menjadikannya merasa lebih baik dari orang lain dikarenakan telah melakukan ketaatan yang merupakan manifestasi bentuk rasa syukur seseorang kepada Allah subhanahu wa ta’alaa.

Lebih lanjut, ayat ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa sebagai seorang muslim yang taat hendaknya senantiasa bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’alaa dengan sebanyak-banyaknya.

Adapun makna dari potongan akhir dari ayat di atas, “wa imma kafuuron” sebagai potret bahwasanya di samping ada segolongan yang senantiasa bersyukur dikarenakan telah diantar menuju jalan yang lurus, terdapat segolongan lain pula yang tersesat sehingga mereka mengingkari Allah azza wa jalla.

Oleh karenanya, manakala seseorang telah diberikah hidayah berupa jalan yang lurus maka akan mengantarkannya sebagai seorang hamba yang beriman, taat dan senantiasa bersyukur kepada Allah.

Sebaliknya, manakala seseorang tidak berada pada hidayah Allah azza wa jalla maka ia akan tersesat dan senantiasa mengingkari ayat-ayat-Nya, berbuat sewenang-wenang dan tidak bersyukur atas segala anugerah yang telah diberikan kepadanya.

Bersambung ….

(Artikel ini diintisarikan dari ceramah agama Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag. / Rektor Institut Agama Islam Negeri [IAIN] Sorong, Papua Barat pada sesi Kajian Ba’da Sholat Dzhuhur di Masjid Raya Al-Akbar Kota Sorong, pada Selasa 14/6/22)

Tentang Penulis