Flag Counter
15 June 2024

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

KONSISTENSI PENCEGAHAN PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR MELALUI SHALAT

Wakil Rektor I Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Dr. Muhammad Rusdi Rasyid, M.Pd.I. tengah memberikan Khutbah Jum’at kepada jama’ah Masjid Al-Akbar Kota Sorong. (Kitorangnews/RR)

Sorong.Kitorangnews.com – Jika melihat di dalam Q.S. Al-Ankabut ayat 45 yang berbunyi:

Terjemahannya: “Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”

Redaksi ayat ini sangat tegas yang memberikan informasi kepada kita sekaligus perintah yaitu bacalah!, kata ini sama dengan akar katanya yang biasa kita dengar istilah “Tilawatil Quran” atau “Musabaqah Tilawatil Quran“.

Kita diperintahkan untuk membaca kitab, bacalah apa yang telah diwahyukan, selanjutnya ada kata perintah lagi yaitu perintah dirikanlah shalat! karena sungguh shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Redaksi ayat ini menunjukkan dan memberi kita informasi secara tegas bahwa fungsi shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Tetapi pertanyaan kemudian adalah banyak orang yang mendirikan shalat atau melaksanakan shalat tetapi juga perbuatan kejinya juga jalan! Lantas ini bagaimana?.

Surah Al-Ankabut secaara bahasa artinya laba-laba karena dalam salah satu ayatnya menyinggung dan memberikan perumpamaan bahwa rumah laba-laba adalah rumah yang paling rapuh. Ini dipermisalkan atau diperumpamakan bagi orang-orang yang mencari Tuhan selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Nah untuk memberikan jawaban yang pasti mengapa ada orang yang shalat tetapi rajin juga melaksanakan perbuatan keji dan mungkar. Saya akan mencoba memberikan ilustrasi atau memberikan juga perumpamaan terkait hal tersebut.

Ilustrasi mendirikan shalat itu kita bisa memberikan perumpamaan seperti mendirikan rumah. Sebelum kita mendirikan rumah, kita harus terlebih dahulu diberi petunjuk, kita harus membaca dulu terkait dengan bagaimana cara membuat rumah, bagaimana blueprintnya, bagaimana kita harus membaca lingkungan di mana akan kita menjadikan rumah.

Oleh karenanya, mendirikan rumah itu biasanya diawali dengan pemilihan tempat kemudian membuat pondasi, mendirikan tiangnya, mendirikan dindingnya kemudian terakhir atapnya dan lain sebagainya.

Fungsi rumah adalah mencegah penghuninya dari terik panasnya matahari dan menghindari penghuninya dari siraman air hujan dan dinginnya malam.

Nah kembali kepada fungsi shalat, seperti itu juga yaitu mencegah orang yang memiliki shalat itu dari perbuatan keji dan mungkar.

Nah kembali lagi mengapa ada orang yang punya rumah tetapi masih kena air hujan, boleh jadi rumahnya belum terpasang atapnya. Mengapa penghuni rumahnya masih kena panasnya matahari, boleh jadi rumahnya belum punya dinding baru pondasinya karena masih tahap mendirikan rumah.

Betul dia memiliki rumah atau sementara mendirikan rumah tetapi belum sempurna rumahnya. Rumah yang sempurna maka sudah berfungsi melindungi pemiliknya dari panasnya sinar matahari dan derasnya air hujan. Begitu pula perumpamaan kalau orang memiliki shalat yang sempurna maka sudah jelas sudah tegas di dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan “sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Ulama kita yang paling terkenal, Prof. Dr. H. Muhammad Quraish Shihab, MA. menyatakan bahwa keji itu bisa dimaknai sebagai segala perbuatan yang dianggap tidak baik oleh ajaran agama kita. Sementara mungkar sebagian ulama berpendapat bahwa adalah sebuah perbuatan ingkar yaitu perbuatan yang mengingkari perjanjian.

Terkait dengan mungkar ini, ada perjanjian antara Allah dengan hambanya sebelum manusia ini dilahirkan ke bumi yaitu “alastu birabbikum, qoluu balaa syahidnaa” (Bukankah aku Tuhan kalian? Mereka menjawab: Betul Engkaulah Tuhan kami). Tetapi ketika berada di bumi ini mereka melupakan Tuhannya. Inilah yang dimaksud dengan ingkar.

Salah satu pondasi dasar keingkaran yang banyak dilupakan manusia adalah “”Laa haula wala quwwata illa Billah” (tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah subhanahu wa ta’ala) tapi kebanyakan manusia mengaku dia memiliki kemampuan sendiri. Oleh karena itu, ini termasuk bagian dari ingkar menurut jumhur ‘ulama.

Mudah-mudahan kita semua adalah orang-orang yang telah memiliki shalat yang sempurna, sehingga berfungsi mencegah kita dari perbuatan-perbuatan yang keji termasuk perbuatan maksiat dan terutama adalah perbuatan yang ingkar, yang banyak dilanggar oleh manusia.

Manusia sering kali menyatakan dirinya lebih kuat, menyatakan dirinyalah yang berbuat kebaikan padahal sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala yang berbuat baik. Peringatan itu senantiasa diberikan atau disampaikan kepada kita semua dengan tanda-tanda bahwa sebelum engkau melaksanakan segala sesuatu amal kebaikan maka ucapkanlah “Bismillahirrahmanirrahim” karena sesungguhnya keberadaan manusia itu adalah sebagai Khalifah (pemimpin).

Seorang pemimpin itu tentunya memiliki tugas untuk memakmurkan bumi dan tugas kita hanyalah pengabdian kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tidak ada yang lain.

Jadi, marilah kita jangan sekali-kali mengaku bahwa kitalah yang memiliki perbuatan kebaikan, karena sesungguhnya “laa haula wa laa quwwata illa billah” dan apapun yang kita laksanakan maka hendaknya “bismillahirrahmanirrahim”. Mudah-mudahan kita semua mendapat petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Semoga bermanfaat!

Wallahul muwafiq wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(Artikel ini diintisarikan dari Khutbah Jumat Dr. Muhammad Rusdi Rasyid, M.Pd.I. / Wakil Rektor I Institut Agama Islam Negeri [IAIN] Sorong, Papua Barat di Masjid Agung Al-Akbar Kota Sorong)

Loading

Tentang Penulis