Flag Counter
21 July 2024

Kitorang News

Harmoni dan Produktivitas

MENYEGARKAN OPTIMISME, MEMPERKUAT IKHTIAR UNTUK MERAIH SUKSES

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag. bertindak sebagai Khatib pada Khutbah Jum’at di Masjid Al-Akbar Kota Sorong. Jum’at, 13 Januari 2023. (Kitorangnews/RR)

Sorong.Kitorangnews.com – Salah satu kelemahan manusia adalah tidak memiliki informasi yang sempurna tentang kehidupan.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, kita melupakan sebahagian pengalaman yang pernah kita alami, kita juga sudah tidak tahu sebahagiaan informasi yang pernah kita tahu.

Kita juga pernah gagal dalam kehidupan tetapi kadang-kadang kita lupakan, kita juga memperoleh banyak nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala tetapi ada yang diingat ada juga yang tidak diingat bahkan tidak kita syukuri.

Ketidakmampuan kita untuk memahami secara sempurna informasi ini, sehingga kadang-kadang kita punya harapan yang kita harapkan agar terjadi dan kita sangat harapkan terjadi tetapi tidak terjadi.

Kadang-kadang ada usaha kita yang kita tidak harapkan terjadi, justru itulah yang terjadi. Inilah salah satu kelemahan manusia.

Tetapi dibalik kelemahan itu, pasti ada hikmah yang Allah subhanahu wa ta’ala simpan yang kita tidak tahu. Oleh karena itu, kadang-kadang kita gagal dalam bekerja atau mencari sesuatu namun kadang-kadang pula kita sukses.

Ketika kita gagal, ajaran Islam mengajarkan kepada kita untuk bersabar, tetapi ketika kita sukses ajaran Islam mengajarkan kepada kita kita harus bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Tetapi faktanya, dalam kehidupan ini ada orang yang gagal tidak bersabar bahkan hampir seluruh nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang lain itu dilupakan.

Sebaliknya dalam faktanya, ada orang juga yang sukses memang dia bersyukur tetapi pada sebahagian nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang lain itu dia juga lupakan.

Bersabar itu adalah sesuatu yang dibutuhkan bersabar itu adalah kesempatan yang sangat baik untuk kita semakin dekat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan untuk kita mengoreksi diri sendiri di mana kelemahannya.

Kadang-kadang kita bersabar itu karena gagal, tetapi kita menutup mata terhadap kenyataan, kita menghindar daripada kegagalan itu.

Dalam pandangan Islam, ketika kita bersabar maka sesungguhnya itu adalah kesempatan untuk melakukan pembenahan diri secara total dan kita harus berjuang bahwa pada kesempatan yang lain kita akan sukses.

Itulah sebabnya di dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala berpesan kepada kita semua bahwa:

Terjemahannya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah: 5-6)

Para Mufassir (baca: ahli tafsir) berpendapat bahwa satu kesulitan itu didampingi oleh dua kemudahan. Karena itu, ketika terjadi kesulitan maka peluang memperoleh kemudahan itu dua kali lebih banyak.

Apa kuncinya? maka kuncinya adalah lakukan konsolidasi-konsolidasi. Lakukan konsolidasi terhadap diri sendiri, konsolidasi terhadap jaringan, konsolidasi terhadap keluarga dan konsolidasi terhadap Allah subhanahu wa ta’ala.

Kalau itu yang kita lakukan, maka kita memiliki dua peluang. Karena itu, sesungguhnya satu kesulitan itu, sesungguhnya yang dialami itu hanya setengah. Karena Allah subhanahu wa ta’ala menyiapkan satu kesulitan didampingi oleh dua kemudahan. Sehingga rasionalnya adalah kesulitan yang kita hadapi maupun kegagalan yang kita hadapi. Kita hanya sesungguhnya itu menemukan setengah kegagalan.

Ikhtiar yang kita harus lakukan ada dua. Pertama, ikhtiar yang berkaitan dengan usaha itu sendiri, hukum-hukum usaha. Kita harus tahu hukum-hukum usaha itu sehingga kita bisa kuasai usaha itu. Kedua, ikhtiar yang sifatnya tidak kelihatan. Ikhtiar yang tidak kelihatan itu adalah ikhtiar doa, dzikir, infaq dan shodaqah.

Kalau dua model ikhtiar ini yang kita lakukan lalu kemudian kita gagal, maka kegagalan itu kita hanya temukan setengah, dan ada peluang untuk bangkit dua kali.

Oleh karena itu, perlu kita melihat kembali bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu sangat adil, Allah itu sangat bijaksana, Allah itu sangat memahami kebutuhan kita.

Cuma kita ini kadang-kadang manusia sebagai hambanya, tidak melihat hikmah dibalik kegagalan yang pernah menimpa kita.

Kita beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala itu adalah sebuah kekuatan besar, sebuah energi yang harus dipantulkan dalam kehidupan kita dalam rangka mengarungi bahtera kehidupan ini.

Banyak orang yang gagal dalam kehidupan ini, karena keimanannya itu tidak dijadikan sebagai sebuah kekuatan.

Keyakinan itu adalah sebuah kekuatan yang kita harus pantulkan dalam kehidupan ini, ketika kita gagal maka yang menjadi pelampung adalah kehebatan kita. Lalu kemudian ketika kita berhasil yang menjadi pendamping kehidupan kita adalah keimanan kita.

Semoga bermanfaat!

Wallahul muwafiq wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(Artikel ini diintisarikan dari Kutbah Jum’at Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag. / Rektor Institut Agama Islam Negeri [IAIN] Sorong, Papua Barat di Masjid Agung Al-Akbar Kota Sorong)

Loading

Tentang Penulis